Pages

Minggu, 06 Maret 2011

KIAMAT ATAU BADAI MATAHATI 2012

Ada hal menarik yang perlu diketahui tentang kiamat menurut bangsa Maya.Kalender Bangsa Maya dimulai tahun 3113 SM sampai 2012 M. Kalender itu ber­akhir pada 21 Desember 2012, dan tanggal itu merupakan “End of Time” atau akhir dari waktu atau zaman.

Ramalan bangsa Maya tentang kiamat dunia pada 2012, merupakan bagian dari kalender Long Count, yang juga dikenal sebagai Winaq May Kin. Kalender itu menyakup sekitar 5.200 tahun surya, periode yang disebut satu matahari oleh bangsa Maya. Selain itu, ada juga cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012.


Dalam perhitungan Maya yang ganjil, satu tahun terdiri atas 360 hari, sisanya 5,25 hari (4 x 0,25 diperhitungkan sebagai
hari kabisat dan dianggap di luar waktu). Secara tradisional, bangsa Maya mempersembahkannya sebagai ucapan syukur atas tahun sebelumnya, sekaligus merayakan tahun yang akan datang.

Kalender Maya menyatat pergerakan matahari, bulan, dan planet-planet yang terlihat, masa panen, serta siklus serangga, dan jangka waktunya berkisar dari 260 hari hingga 5.200 tahun lebih. Sejak peradaban manusia bangkit, kita telah melewati tiga Matahari secara penuh, dan sekarang menyelesaikan matahari keempat yang akan berakhir pada 21 Desember 2012.

Benarkah kiamat akan terjadi pada 2012? Kehebohan itu sebenarnya tak berkaitan dengan tahun 2012. Tahun 2012 bu­kanlah tentang kematian. Menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbang­an dan
Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S. Tedjasukmana, “Feno­mena yang muncul pada 2011-2012 adalah badai matahari.”

Prediksi itu berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak 1960-an, dan di Indonesia dipantau oleh Lapan sejak 1975. Pasalnya, aktivitas baru di matahari yang disebut “Solar Cycle 24” terlacak oleh lembaga atmosfer Amerika Serikat, NOAA (National Oceanic and Atmospheric Adminis­tration). Bintik matahari itu adalah badai magnetik, lebih besar dari pada bumi, yang menodai permukaan matahari. Suhunya kira-kira 1.500 derajat Celcius lebih dingin. Oleh karena itu, cuacanya lebih gelap dibanding daerah sekitarnya yang bersuhu 5.800 derajat.

Bintik matahari terjadi dalam daur sembilan sampai tiga belas tahun –lebih sering sebelas tahun— jangka waktu normal dari satu solar maksimum (jumlah bintik matahari terbanyak) ke solar maximum berikutnya. Begitu pun sebaliknya, dari solar minimum ke solar minimum berikutnya.

Maka, logis jika periode waktu dari solar maksimum ke solar minimum, dari puncak hingga nadir, biasanya berada dalam rentang waktu 5 sampai 6 tahun. Daur sekarang ini, 23, akan mencapai titik nadir pada akhir 2006. Daur berikutnya, 24, akan memuncak pada 2012.

Bintik matahari telah dimonitor dengan mata telanjang selama ribuan tahun. Dengan teleskop, tak lama setelah Galileo menyiptakanya pada 1610, dan dengan satelit sejak pertengahan 1970-an. Ada konsensus ilmiah yang lebih luas, bahwa aktivitas matahari keseluruhan —pada dasarnya berarti beragam bentuk ledakan dan letupan surya— meningkat saat jumlah bintik matahari meningkat, dan turun ketika jumlah bintik matahari menurun.

Badai matahari adalah fenomena alam yang terjadi pada matahari ketika terlemparnya proton dan elektron akibat aktifitas magnetik matahari. Akibat aktifitas magnetik tersebut, gelombang magnetik yang mengarah ke bumi menghalangi sinyal-sinyal komunikasi. Oleh karena itu, seluruh alat komunikasi yang meng­­­gunakan sinyal elektromagnetik, pada saat itu tidak bisa berfungsi de­ng­an baik.

Badai matahari yang melontarkan awan gas magnetik, berkecepatan tinggi. Masih ingat peristiwa badai matahari pada bulan Oktober dan November 2003? Badai itu menyebabkan berbagai gangguan di lingkungan bumi, penampakan aurora yang sangat menakjubkan di Kutub, kenaikan intensitas sabuk radiasi yang menyelimuti bumi, bahkan mengganggu kinerja satelit.
Itu akan menyebabkan panas yang luar biasa di bumi. Terlebih atmosfer sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian. Sehingga, selain memanaskan bumi secara radikal, juga melelehkan es di Kutub, dan menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.

Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari, mulai retak. Bahkan, ada yang sampai sebesar kota California. Pergeseran Kutub juga tengah berlangsung. Badai matahari atau solar storm dapat menimbulkan ledakan energi yang cukup dahsyat ke arah Bumi.

Ledakan itulah yang kemudian akan mengganggu jalannya sistem sinyal elektronik yang sensitif, khususnya ponsel dan GPS. Keakuratan GPS akan berkurang hingga 90%, dan dapat rusak. Itu sangat membahayakan dunia penerbangan, di mana fungsi GPS sudah seperti ”nafas pada manusia.”

Fenomena itu juga sangat berpengaruh pada pembangkit listrik jika terus dinyalakan pada saat badai berlangsung, karena medan magnet Bumi yang tidak stabil. Jika pembangkit listrik tersebut rusak, maka dibutuhkan waktu sekira dua tahun untuk membangunnya kembali. Itu memaksa masya­rakat untuk kembali hidup tanpa listrik, hingga pembangkit listrik baru selesai dibangun.

Menurut wikipedia, itu pernah terjadi di Quebec pada 13 Maret 1989, saat enam juta orang hidup tanpa listrik selama sembilan jam. Padahal, puncak ledakan badai matahari jika mengenai Bumi bisa mencapai lebih dari dua hari. Seperti pernah dikutip oleh ABC News pada 14 Januari 2007, ”Solar storm ini akan mempengaruhi beberapa menara di beberapa wilayah. Dan menara telekomunikasi merupakan sasaran empuk dari aktivitas solar storm,” ujar Dale Gary, ilmuwan yang juga petinggi di Institut New Jersey
 bagian fisika. KARYATI NIKEN SUGESTI DARI BERBAGAI SUMBER   
 
Langkah Antisipatif
Seperti yang dilansir oleh Kompas.com, cara mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, Lapan tengah membangun pusat sistem pemantau cuaca antariksa terpadu di Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan Bandung. Obyek yang dipantau antara lain lapisan ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem itu rencananya akan beroperasi pada Januari 2009.

Langkah antisipatif yang telah dilakukan Lapan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari munculnya badai antariksa, yaitu Dephankam, TNI, Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta pemerintah daerah. Pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama. Kini ada sekitar 500 orang yang terlatih untuk menghadapi gangguan sinyal radio. Selain itu, penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan satelit GPS sebagai sistem navigasi, hendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi, dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawat terbang.
 
 
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More