Pages

JALMA MARA , JALMA MATI

Jagat iki ana, ana kang jaga !” aku isih eling marang kandhamu, tatkalane lemah dadi kawahing antarane suroboyo medion banjur krasa ana kang gosong ing batin batin panguripku, ngegirisi marang daya lantipkukaya gosonge areng klapa kang wus ilang wawakaya jasad kang limpad kelangan nyawa... .

KU INGIN BERSAMAMU

Aku ingin bersamamu tiap pagi meskipun aku tak pernah tahu dimana kamu Aku ingin bersamamu hingga senja datang meskipun ternyata malam telah larut.. Untuk bersamamu aku ingin kan semua.. Kepingan demi kepingan hati yang kau bawa serta bersamamu

Aku ingin pulang

Aku ingin pulang bersama kehidupan bersama bidadari surgawi berparas segar lalu menyaksikan lagi burung-burung dengan guraunya merangkai sarang bagi rumah aku ingin pulang ke rumah hatiku sebab seruan hidup di pintunya dimana pagarnya kembang lihatlah kupu-kupunya

PENANTIANKU

Sepoi angin menembus badan menyusup disela-sela rambut hitamku deru ombak berhantam menerka seakan tau isi hatiku yang gundah Mengapa kau pergi jauh ke sana meninggalkan untaian kenangan manis membiarkan diriku terselimut sepi hampa sendiri tanpa bayangmu lagi Mengapa ini semua terjadi kau biarkan linangan air mataku terjatuh menangisi dirimu yang berkelana pergi menilnggalkanku seorang diri

LELAYARAN ING KATRESNAN

kamangka sliramu wis ngentirake gegayuhanku mbaka sithik tumekaning gisiklelayaran ing katresnan nyabrangi reribed sadhengah wayah wani nglangkahi telenging pepeteng tanpa maelu sakabehing gubrahyagene praumu durung miwiti anggone nglari nakodaning ati sawise kelakon nggayuh sunare pituduh madhangi katresnan iki tumekaning subuh .

Kamis, 04 Desember 2014

Obyek Wisata Sulawesi Tenggara

Mengintip Keunikan Danau Napabale
Bagi anda yang sedang atau berencana akan berwisata ke Sulawesi Tenggara maka mampirlah di Kabupaten Muna. Karena di daerah ini terdapat obyek wisata yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Iya, Danau Napabale namanya. Danau yang unik karena memiliki air asin.

Berkunjung ke obyek wisata ini, berarti anda mengunjungi danau sekaligus pantai. Mengapa demikian? Karena di danau ini terdapat terowongan alam dengan panjang sekira 30 meter dan lebar sekira 9 meter yang terhubung langsung dengan pantai Selat Buton. Danau Napabale ini mendapatkan suplai air dari laut melalui terowongan alam tersebut, sehingga hal itu menjadikan air di danau ini terasa asin.
Jika air laut pasang, maka Danau Napabele ini juga akan ikut naik mengikuti pasang air laut dan terowongan alam pun juga terendam air. Namun, jika air laut sedang surut maka air juga akan berkurang sehingga terowongan alam pun juga akan terlihat kembali. Selain menyuplai air laut ke danau, terowongan alam ini pun juga dimanfaatkan oleh para nelayan setempat sebagai jalur untuk pulang dan pergi melaut.

Yang pasti, dengan mengunjungi kawasan wisata Sulawesi Danau Napabale ini, anda akan di manjakan dengan dua pesona alam sekaligus yaitu pesona danau dan pesona laut yang memukau.

Keindahan alam danau dan laut ini bisa anda nikmati dengan cara berlayar di atas sampan atau juga bisa dengan cara menyelam ke dalam danau dan laut. Dengan menyelam, anda akan dapat menikmati panorama bawah air yang sangat menakjubkan. Tetapi jika tidak berani untuk menyelam ke bawah danau atau bawah laut, anda bisa meminta bantuan para nelayan untuk mengantarkan anda ke tengah danau. Pasalnya di tengah danau ini, terdapat tiga karang besar yang berbentuk seperti cawan, yang ditumbuhi oleh pepohonan hijau yang sangat indah dan sejuk.

Selain itu, Danau Napabale dikelilingi oleh perbukitan dan tebing yang tinggi dan terjal dengan ragam tumbuhan yang hidup di atasnya, hingga menjadikan panorama di danau ini semakin indah dan sejuk.

Jika anda sudah puas menikmati panorama Danau Napabale, kini anda bisa melewati terowongan menuju tepi pantai. Di tepi pantai yang indah tersebut, anda bisa memanfaatkan waktu untuk bersantai, berjemur di tepi pantai atau bermain ombak.
Tapi bagi anda yang ingin menjelajahi Danau Napabale secara mendalam, anda dapat menyewa perahu yang telah disediakan oleh nelayan di sekitar danau. Selain itu, anda juga tidak perlu mencari pemandu wisata karena pengemudi perahu akan secara langsung memandu anda untuk menikmati keindahan wisata Sulawesi ini. Jadi, anda tidak perlu khawatir dengan tidak adanya pemandu wisata.

Telusur Goa
Jika anda belum puas, masih ada kegiatan wisata lain yang bisa anda lakukan dan tak kalah serunya. Yakni menelusuri goa. Karena tak jauh dari Danau Napabale ini, ada obyek wisata berupa situs purbakala, yang diberi nama Goa Kabori atau orang setempat menyebutnya Liang Kabori. Menelusuri jauh ke dalam goa ini, anda bisa melihat ratusan lukisan hasil karya manusia zaman prasejarah di sepanjang dinding goa.

Lokasi
Danau Napabale terletak di Desa Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, atau berjarak 15 km dari Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna.

Akses
Dari Bandara Walter Mongonsidi Kendari, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Bandara Sugimanuru, Kabupaten Muna dengan menggunakan pesawat perintis. Kemudian untuk menuju Kota Raha dari Bandara Sugimanuru, pengunjung bisa menggunakan angkutan umum dengan perjalanan sekira 30 menit. Dari Kota Raha perjalanan dilanjutkan lagi menuju Danau Napabale dengan menggunakan taksi atau ojek dengan waktu perjalanan sekira 20 menit.

Bagaimana apakah sudah siap atau sudah memasukan Danau Napabale ini sebagai tujuan liburan anda nantinya? Yang pastinya, jangan lewatkan obyek wisata Sulawesi yang satu ini jika anda berkunjung ke Pulau Sulawesi. (Diolah dari berbagai sumber)

Kabuto, Wisata Kuliner Khas Sulawesi Tenggara
Selain memiliki panorama wisata alam dan laut yang sangat indah, Sulawesi Tenggara pun juga memiliki wisata kuliner khas Provinsi Sulawesi Tenggara yang terkenal kelezatannya. Wisata Sulawesi kuliner khas Provinsi Sulawesi Tenggara ini adalah Kabuto. Bagi anda yang belum mengenal makanan khas yang satu ini, jangan khawatir. Kami akan mengupasnya dalam artikel ini.

Kabuto merupakan salah satu makanan khas Masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara. Jika di pandang sekilas, makanan Kabuto ini mirip dengan makanan gathot dari Jawa yang terletak di wilayah Gunung kidul, Yogyakarta. Makanan gathot dari jawa dengan Kabuto dari Sulawesi Tenggara ini memiliki sedikit kesamaan antara keduanya. Letak kesamaanya adalah sama-sama berbahan dasar ketela pohon (singkong) atau ubi kayu yang telah kering dan kemudian baru dimasak.
                                                    Kabuto (source : halokdi.blogspot)

Perbedaan antara keduanya adalah dari sisi bahan pelengkapnya. Makanan gathot bahan pelengkapnya adalah dengan memberinya campuran parutan kelapa dan garam untuk memberikan rasa asin atau bila menginginkan sedikit rasa manis bisa memberikan campuran gula merah. Namun, Kabuto sedikit berbeda yaitu selain memberikan campuran parutan kelapa juga memberikan tambahan campuran ikan asin gorang.

Makanan Kabuto ini sejak zaman dahulu sudah menjadi makanan pokok masyarakat Muna, Sulawesi Tengggara, sebagai makanan pengganti nasi terutama mereka yang tinggal di daerah pesisir pantai. Jika masa paceklik tiba, makanan kabuto sangat di butuhkan dan banyak di konsumsi oleh masyarakat di sana untuk penguat tubuh.

Memang, masyarakat Muna pesisir, tidak memiliki makanan pokok yang lain selain Kabuto ini karena tanaman padi sangat sulit tumbuh di wilayah mereka. Jika di teliti lebih jauh struktur tanah di daerah mereka memang kurang subur sehingga tanaman padi tidak bisa tumbuh. Hal ini memaksa mereka untuk mencari alternative lain selain menanam padi.

Maka dari itu, mereka akhirnya memilih ketela pohon sebagai bahan makanan pokok mereka karena ketela pohon sanggup bertahan lama dan bisa memberikan rasa kenyang sebagaimana nasi. Sampai saat ini belum ada yang mengetahui mengapa makanan ini di juluki dengan nama Kabuto. Yang pasti makanan Kabuto ini tidak ada kaitannya dengan nama salah satu animasi pada film Jepang yang bernama Kabuto Yakushi.

Perlu anda ketahui bahwa makanan Kabuto ini memiliki cita rasa yang khas sehingga membuat ia dijadikan sebagai sajian istimewa di kalangan masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara.

Kekhasan cita rasanya muncul dari bahan dasar ketela pohon yang telah di keringkan dan kemudian di olah menjadi makanan kabuto ini. Jika anda penasaran untuk mencobanya, silakan datang langsung di kampung para Nelayan tepatnya di pesisir pantai Muna, Sulawesi Tenggara. Harganya pun juga sangat terjangkau. Anda cukup merogoh kocek antara Rp 4000-Rp 5000 setiap porsinya (lengkap dengan lauk ikan asinnya).

Taman Hutan Raya Murhum, Wisata Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tenggara menawarkan beragam jenis tempat wisata di provinsi ini, sehingga tidaklah heran jika mengundang banyak wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia, maupun dunia.

Bila anda ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari Sulawesi Tenggara, bisa mampir ke lokasi wisata Taman Hutan Raya Murhum.
Hutan Raya Murhum,Tempat Wisata Sulawesi (source : yukpegi.com)

Obyek wisata Taman Hutan Raya Murhum terletak di area pegunungan Nipa-Nipa, tepatnya di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Obyek wisata ini terbagi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari, dan Kecamatan Soropia yang ketiga-tiganya berada di wilayah Kota Kendari.

Penyebutan Murhum diambil pada nama Raja Buton yang terakhir dan juga nama Sultan Buton pertama, sebagai penghormatan pada raja dan sultan yang pernah berkuasa di sana. Maka diabadikan namanya pada Taman Hutan Raya ini.

Taman hutan ini masih termasuk ke dalam salah satu Kawasan Konservasi Alam di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Taman Hutan Raya Murhum ini memiliki bentuk topografi datar, bukit, serta gunung yang berada di kondisi kemiringan hingga mencapai 20-40%. Tahura Murhum (Taman Hutan Raya Murhum) berada tepat di atas tanah yang seluas sekitar 8.146 hektar dengan ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut.

Tahura Murhum ini memiliki berbagai macam keistimewaan dan keunikan yang beraneka ragam salah satunya terdapat berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang bermacam-macam. Tanaman tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat di Tahura Murhum adalah kayu besi, bolo-bolo putih, palem, rotan, dan sebagainya. Sedangkan hewan yang banyak terdapat di Tahura Murhum adalah hewan anoa, musang, elang laut, kupu-kupu, dan kesturi. 
                             
Selain itu, di dalam area hutan ini, anda akan bisa menikmati air terjun yang sangat bersih dan dapat anda pergunakan untuk mandi. Tak hanya itu, tidak jauh dari lokasi air terjun tersebut, anda akan menemukan situs bersejarah. Yaitu benteng pertahanan peninggalan Jepang.

Kombinasi yang beragam antara jenis-jenis tumbuhan, hewan, serta panorama alam yang memukau, dan situs bersejarah membuat obyek wisata Sulawesi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selain keindahan alam yang memukau pada obyek wisata ini, Tahura Murhum juga sudah menyediakan berbagai fasilitas yang di peruntukkan bagi kenyamanan setiap pengunjung. Di sekitar kawasan Tahura Muhum ini terdapat rumah makan dan restoran yang memiliki berbagai macam menu masakan yang sangat tepat untuk menambah stamina anda setelah berjalan kaki selama menyusuri kawasan wisata ini. Jika anda sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan tidak sanggup meneruskan untuk menelusuri obyek wisata Tahura Murhum ini, anda bisa menginap terlebih dahulu di sekitar lokasi obyek wisata untuk beristirahat. Di sekitar obyek wisata Tahura Murhum ini sudah di sediakan akomodasi hotel yang terdiri dari berbagai macam kelas hotel, mulai dari motel hingga hotel berbintang.

AKSES
Untuk menuju obyek wisata ini, anda harus memperhatikan akses jalan yang tepat dalam rangka untuk mempercepat perjalanan sampai ke tempat obyek wisata. Jika anda memulai perjalanan dari Bandara Wolter Mongisidi, anda harus naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi untuk menuju Kelurahan Kemaraya dan kemudian di lanjutkan menuju ke Benua-benua Tipulu, Gunung Jati, Sodohoa dan Mangga Dua. Setelah anda sampai di Mangga Dua, anda harus berjalan kaki melewati jalan setapak dengan jarak sekitar 3,5 km atau sekitar 2 jam berjalan menuju ke Obyek Wiasata Tahura Murhum ini. Jangan khawatir, perjalanan yang melelahkan yang anda lewati akan terbayar dengan keindahan alam Tahura Murhum.

Wisata Sulawesi Tenggara di Pulau Kabaena
Jika anda berkunjung ke Provinsi Sulawesi Tenggara, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang sangat indah di provinsi Sulawesi Tenggara ini. Dijamin anda tidak akan rugi jika mengunjungi tempat wisata Sulawesi yang satu ini. Di tempat ini anda akan dimanjakan oleh suasana panorama alam yang sangat menakjubkan. Wisata tersebut adalah sebuah pulau yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan sebutan Pulau Kabaena.
                                                                                        
Pulau Kabaena merupakan salah satu pulau kecil yang terpisah dari Pulau Sulawesi, namun menyimpan berbagai keindahan alam yang tak ternilai harganya. Dijamin mata anda tidak berkedip dan akan membuat anda ketagihan untuk mengunjungi pulau ini. Di pulau Kabaena ini anda akan di suguhi pemandangan alam yang berupa pantai, perbukitan yang sangat unik, dan ada juga gua yang menyimpan berbagai keindahan.

Bagi anda yang belum mengetahui tentang pulau Kabena ini, sedikit kami akan menjelaskan tentang pulau ini. Pulau Kabaena terletak di ujung tenggara Pulau Sulawesi dengan luas wilayahnya mencapai 873 km2. Di pulau ini, terdapat sebuah gunung yang sangat terkenal yaitu Gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1800 meter dari permukaan air laut.

Eksotisme Gunung Sabampolulu mulai terasa ketika pengunjung sudah mendekati Pulau Kabaena. Berkunjung ke lokasi ini, anda akan merasakan cuaca dingin hingga siang hari.
Gunung Sabampolulu, di Pulau Kabaena

Untuk lebih jelasnya, silakan anda kunjungi wisata pulau Sulawesi ini. Dan untuk menambah referensi, kami akan mengulas beberapa tempat wisata yang layak anda kunjungi jika anda sedang berada di Pulau Kabaena Sulawesi Tenggara. Untuk itu, berikut ulasannya di bawah ini.

Pulau Sagori
Pulau Sagori adalah sebuah pulau yang terletak di Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, atau di sebelah barat Pulau Kabaena. Pulau ini menyuguhkan sebuah keindahan alam yang sangat luar biasa terutama keindahan pantainya. Pulau Sagori merupakan karang atol berbentuk setengah lingkaran. Selain itu, pulau ini juga memiliki onggokan pasir putih dengan panjang sekira 3.000 meter dan pada bagian tengah sekira 200 meter. Jika melihat dari udara, anda akan melihat pulau ini berbentuk seperti bulan sabit dan berbagai pohon cemara yang tumbuh subur di sekitar pulau ini. Bukan hanya itu, melihat Pulau Sagori dari ketinggian jarak jauh menampilkan sapuan empat warna, yakni biru tua sebagai garis terluar, biru muda, garis putih, kemudian hijau di tengah.

Goa Batu Buri
Tempat yang kedua ini adalah sebuah situs goa bersejarah, Batu Buri (Batu bertulis) yang cukup terkenal di Pulau Kabaena ini. Goa ini banyak di kunjungi oleh para wisatawan. Jadi jangan lewatkan wisata yang satu ini. Goa Batu Buri ini terletak di Desa Lengora, Kecamatan Kabaena Utara. Jika anda mengunjungi goa ini di jamin tidak akan rugi karena anda akan di suguhi berbagai lukisan relief-relief yang berupa stalakmit dan stalaktit. Selain itu, dapat pula ditemui berbagai perkakas dan meubel yang terbuat dari batu pada goa ini.

Bukit Teletubbies
Bagi anda yang pernah menonton serial film anak Teletubbies pasti akan mengenali bagaimana keadaan dari perbukitan pada serial film tersebut. Tapi bukit Teletubbies ini bukanlah yang ada difilm itu lho. Jadi kenapa disebut bukit Teletubbies? Karena bentuk perbukitan yang terdapat pada bukit ini memang sangat mirip dengan serial film anak Teletubbies yang pernah anda tonton. Selain itu, keistimewaan lain yang terdapat pada bukit ini adalah pengunjung bisa menyaksikan panorama matahari terbit maupun matahari terbenam yang sangat memukau bagi wisatawan. Bukit Teletubbies ini terletak di Kelurahan Baliara.

Akses
Untuk mencapai Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, bisa diakses dari Kota Kendari atau Bau-Bau. Karena kedua kota tersebut terakses dengan berbagai maskapai penerbangan dalam negeri maupun kapal laut.

Nah, dari kedua kota itu, anda akan melanjutkan perjalanan dengan kapal feri atau kapal laut ke Pulau Kabaena.

Bagaimana apakah sudah siap menjelajahi keindahan tempat wisata Sulawesi?

Sungai Terpendek di Dunia Ada di Sulawesi
Tak sedikit dari panorama alam Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Bahkan ada diantaranya masuk dalam rekor dunia. Salah satunya adalah Sungai Tamborasi.

Sungai Tamborasi ini terletak di Desa Tamborasi, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, dimana telah mencatat rekor sebagai sungai terpendek di dunia dan itu telah diakui oleh dunia internasional. Wow…Indonesia keren ya.
Sungai terpendek di dunia (Foto : kaskus.co.id)

Sebelum Sungai Tamborasi ditahbiskan sebagai sungai terpendek sedunia oleh Guiness Book of World Record, rekor sungai terpendek didunia sebelumnya disandang oleh Sungai Roe di Great Fallas, Montana, Amerika Serikat, yang mana memiliki panjang sekira 61 meter. Namun rekor tersebut akhirnya berhasil dipatahkan ketika Sungai Tamborasi yang memiliki panjang hanya sekira 20 meter dan lebar 15 meter ditemukan di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Selain Guiness Book of World Record, situs Wikipedia juga mencatat jika Sungai Tamborasi sebagai sungai terpendek dijagad raya ini.

Maka jangan heran jika sungai ini selalu dipadati pengunjung. Dan bahkan telah menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Karena selain datang untuk sekadar bersantai, berenang atau mandi, kedatangan para pengunjung di sungai terpendek ini, hanya ingin menyaksikan keunikan dan keindahan wisata Pulau Sulawesi ini.

KEINDAHAN DAN KEUNIKAN YANG DITAWARKAN
Iya, bagi anda yang berkunjung ke Sungai Tamborasi dijamin akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dan yang pasti akan merasa takjub jika dapat menyaksikan langsung salah satu keajaiban dunia tersebut.

Selain itu, sungai ini juga menawarkan pemandangan unik dan mempesona. Keunikan Sungai Tamborasi adalah memiliki hulu dan hilir dalam satu tempat. Dimana letak hulu sungai hanya berjarak sekitar 20 meter dari hilir yang bermuara langsung ke laut. Dan hamparan pasir putih di sekitar pantai dan hilir sungai, juga ikut menambah keindahan di tempat wisata ini.
Sungai Tamborasi, Sungai Terpendek di Dunia (Foto : java-adventure.com)

Bukan hanya itu, sungai ini juga memiliki dua jenis air, yakni air tawar yang dingin dan air laut yang terasa hangat. Nah dengan demikian, jika ingin berenang atau mandi di sana, Anda memiliki dua pilihan sensasi air yang berbeda.

Anda pun bisa temukan beberapa jenis binatang hutan dan beberapa spesies burung, serta beragam tumbuhan laut, karena suasana alam di sekitar sungai ini masih terbilang alami.

Olehnya itu, semua keindahan dan keunikan yang ada Sungai Tamborasi ini, sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja, terutama ketika Anda sedang bepergian di Kabupaten Kolaka.

FASILITAS
Beberapa fasilitas umum untuk memanjakan pengunjung seperti gazebo untuk beristirahat dan tempat ganti pakaian sudah dilengkapi.

Sementara untuk fasilitas lainnya seperti hotel dan restoran, memang disana belum tersedia. Tapi jika Anda dan keluarga ingin menginap disana, tidak usah ragu. Karena di sekitar lokasi, ada beberapa rumah makan yang sudah “disulap” untuk sekaligus menjadi penginapan.

LOKASI DAN AKSES
Kendati lokasi Sungai Tamborasi jauh dari pusat kota Kolaka, namun tidak usah ragu jika ingin liburan disana. Karena dalam perjalanan, Anda akan disuguhkan dua pemandangan alam sekaligus yaitu, pinggir pantai dan pegunungan batu marmer di sepanjang jalan. Untuk mencapai lokasi wisata ini, Anda bisa mengaksesnya dengan perjalanan darat dengan jarak tempuh sekira 90 Kilometer dari Kota Kolaka, atau sekira 10 jam perjalanan.

Pemandian Bidadari di Air Terjun Moramo
Air terjun Moramo merupakan salah satu obyek wisata alam terindah di Nusantara ini, yang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kombinasi antara keindahan air terjun dengan berbagai jenis aneka satwa serta tempatnya yang berada dalam areal hutan lindung, menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk berkunjung ketempat tersebut, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
                    Air terjun Moramo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Foto : blogspot.com)

Ditempat tersebut dari ketinggian sekitar 100 meter, terbentuklah air terjun sangat menakjubkan, yang memiliki ciri khas tersendiri. Bentuknya bertingkat, terdiri dari 7 tingkatan utama dan 60 tingkatan kecil.

Dari setiap tingkatan, menumpahkan dan meluncur air jernih dengan derasnya yang disertai suara gemericik, menciptakan suatu harmoni alam yang membuat suasana hati dan pikiran menjadi tentram.

Memang, air terjun yang berada dalam kawasan hutan lindung Suaka Alam Tanjung Peropa dengan luas 38.937 hektar itu, suasananya sangat tenang. Dan sangat cocok bagi anda yang ingin menghindari keramaian kota untuk sementara waktu.

Bebatuan yang menjadi tempat mengalirnya air yang sangat sejuk, sangatlah indah di pandang mata. Karena setiap tingkatan terdapat undakan air yang menyerupai kolam dan bagaikan tempat peristirahatan air menuju ketingkatan berikutnya.

Dari setiap kolam itu, pengunjung dapat memanfaatkannya sebagai tempat pemandian. Tetapi bagi anda yang hobi renang, bisa memilih kolam pada tingkatan kedua. Pasalnya kolam tersebut, lebih luas dari kolam yang lain, juga tidak terlalu dalam.

Meskipun bebatuan menjadi hamparan air ditempat itu, namun anda tak perlu takut untuk menyusuri tiap tingkatan yang bagaikan anak tangga tersebut. Karena bebatuan yang ada dikawasan air terjun Moramo, merupakan batuan kapur yang menyebabkan dinding-dindingnya tidak licin untuk dipanjat dan dilewati pengunjung.

Ya, tak hanya bentuknya yang indah ketika tersentuh cahaya matahari, bebatuan tersebut memancarkan kilauan pelangi yang berwarna-warni dan terlihat menari-nari berbenturan dengan buih air terjun dan riak gelombang yang sangat lembut. Suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan.

Olehnya itu, tak heran jika sebagian masyarakat mempercayai tempat tersebut sebagai permandian para bidadari yang turun dari kayangan.
Wisata air terjun Moramo (Foto : go celebes)

Tak hanya itu, sepanjang perjalanan dan sekitar air terjun itu, anda akan menjumpai bentangan alam yang luas nan hijau dan diperkirakan usianya mencapai ratusan tahun. Kondisi jalan yang sedikit menanjak dan licin menjadi suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Kicauan burung dan penghuni hutan lainnya yang saling bersahutan, tarian kupu-kupu yang berwarna-warni, seakan memecahkan suasana hening di areal itu, dan melengkapi cerita petualangan anda.

Pada awalnya, air terjun Moramo ditemukan pada tahun 1980 oleh salah seorang transmigrasi asal pulau Jawa yang sedang berburu dan memasang jerat anoa. Namun, pada tahun 1990 tempat tersebut baru mulai di gunakan sebagai tempat wisata.

Tempat & Akses
Air terjun Moramo berada di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Atau sekitar 45 kilometer dari kota Kendari.

Sementara untuk mencapai lokasi tersebut, ada beberapa akses yang bisa menjadi pilihan pengunjung. Misalnya dari kota kendari, anda dapat menggunakan angkutan darat selama dua jam perjalanan menuju Kabupaten Konawe Selatan.

Tapi apabila anda menggunakan jalur udara, dari bandara Wolter Mongunsidi, anda dapat langsung menuju ke Desa Sumber Sari. Kemudian dilanjutkan menyusuri kawasan hutan Suaka Alam Tanjung Peropa dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Sekian dan semoga keindahan air terjun tersebut dapat dijaga dan dilestarikan bersama, agar tetap dapat dinikmati oleh anak cucu kita. Jangan sampai hanya karena kepentingan orang-orang atau kelompok tertentu, sehinggga panorama alam yang sudah terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun ini, hancur dalam hitungan menit. Karena di kawasan hutan lindung yang menjadi tempat Air Terjun Moramo ini, memiliki kandungan marmer terbesar yang ada di Indonesia.

Alam Bawah Laut Wakatobi
Kali ini, Tak ada salahnya anda memuaskan mata dan memulihkan tenaga di salah satu surga bawah laut terindah di dunia. Tempat tersebut merupakan salaha satu wisata bahari yang ada di Sulawesi Tenggara. Ia dikenal dengan nama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi.
                       Wisata pulau Wakatobi (Foto : tripadvisor)

Di bawah laut Wakatobi, banyak spesies karang langkah yang menantikan kedatangan anda. Dan tidak usah ragu soal panorama keindahan alam bawah lautnya, keaneka ragaman terumbuh karang serta bioata laut yang ada disana telah menduduki posisi tertinggi dari konservasi laut Indonesia.

Menurut situs Wikipedia (http://id.wikipedia.org), pada tahun 1996 silam, wisata laut ini ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan luas area 1,39 juta hektar. Wow, luas banget yah.

Bukan hanya soal karang, di bawah laut sana merupakan taman bermain 93 jenis spesies ikan. Dan salah satunya adalah ikan pari manta yang memiliki ukuran raksasa.

Beberapa jenis penyu juga menjadikan tempat ini sebagai kediaman, diantaranya penyu lekang, penyu sisik dan penyu tempayan.

Eits, masih ada lagi. Pada bulan November, laut Wakatobi memiliki tamu yang setia. Dia bernama Physeter macrocephalus alias ikan paus sperma. Karena pada bulan tersebut belahan bumi lain membeku. Nah pada saat itu, air laut Wakatobi relative lebih hangat di bandingkan laut lainnya.
Alam bawah laut Wakatobi (Foto : jalurindonesia)

Pesona bawah laut kepulauan Wakatobi sudah sejak lama terkenal hingga mancanegara. Maka tak heran, banyak wisatawan asing yang tidak segan merogoh kocek dalam-dalam, demi berpetualang ke Wakatobi untuk menyaksikan keindahannya.

Laut yang diakui sebagai pusat segitiga karang tersebut, telah menjadi perhatian dunia. Terutama setelah adanya tim ekpedisi Wallacea dari Inggris pada tahun 1995. Menurutnya, daerah tersebut terdapat 750 bunga karang atau koral dari 850 total jenis koral yang tersebar diseluruh dunia. Olehnya itu, tak ada salahnya jika Wakatobi dijuluki sebagai tempat menyelam terindah di dunia.

Tak hanya itu, di pinggiran pantai terdapat hutan mangrove yang menjadi tempat bersarang berbagai jenis burung laut. Seperti burung raja udang erasia, angsa batu coklat serta burung cerek melayu. Suatu pemandangan yang turut melengkapi keindahan pulau tersebut.

Nah, jika anda betah berlibur disana, tak perlu khawatir, karena daerah tersebut memiliki sejumlah fasilitas penginapan dan hotel.

Dan soal perut, menu makanan laut yang tersedia dijamin masih segar. Selain itu, anda juga dapat menikmati makanan khas Wakatobi, seperti: sayur paria yang diisi dengan ikan, tombole atau tepung ubi kayu yang di campur dengan kelapa dan di bungkus daun pisang lalu di bakar dengan batu panas, dan masih banyak lagi makanan khas Wakatobi yang layak dicicipi.

Objek wisata itu terdiri dari empat pulau, dan nama Wakatobi sendiri sebenarnya singkatan dari pulau-pulau tersebut. Yaitu pulau Wangiwangi, Kalidupa, Tomia serta Binongko.

Sebelumnya pulau ini bagian dari administratif kabupaten buton dan dikenal dengan kepulauan Tukang Besi. Namun pada tahun 2003, ia dimekarkan menjadi Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Namanya pun ikut berubah menjadi Kepulauan Wakatobi.

Untuk menuju kesana, anda tinggal menggunakan kendaraan menuju Ibukota provinsi Sulawesi Tenggara yaitu Kota Kendari. Kemudian anda melanjutkan petualang menggunakan kapal laut menuju pulau Wangiwangi. Tapi ingat, kapal tersebut berangkat setiap pukul 10.00 dan anda akan tiba ditempat tujuan pada pukul 12.00 WITA. Jangan sampai ketinggalan ya!

Bau-Bau, Menyajikan Keindahan Alam 
Pantai Nirwana, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (Foto : wisata.kompasiana)

Berbicara soal wisata di Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Tak terkecuali pulau Sulawesi. Ya, hampir semua daerah di pulau ini menawarkan tempat atau obyek wisata menawan dan menarik untuk dikunjungi.

Salah satunya Buton, Sulawesi Tenggara yang juga terkenal dengan wisata bawah lautnya yang kaya nan indah.

Nah, jika anda ingin berlibur akhir pekan atau berwisata di pantai, gak ada salahnya Pantai Nirwana menjadi pilihan anda. Mengapa demikian? Karena pantai yang berada di Kelurahan Sula, Betoambari, Bau Bau, Buton, Sulawesi Tenggara tersebut, begitu indah dan panorama pantainya tak terbantahkan lagi.

Hamparan pasir putih bersih dengan lambaian nyiur di sepanjang pantai, sungguh menjadi pemandangan yang mempesona ditempat ini. Airnya biru jernih dan tenang, bahkan hampir tidak ada ombak sama sekali dan juga tanpa karang. Sehingga pengunjung bebas bermain dan berenang tanpa takut ombak besar dan terkena karang.

Nirwana, namanya bagaikan seorang gadis cantik. Bahkan jika diartikan, Nirwana adalah “surga”. Ya, memang ditempat wisata ini menawarkan keindahan pantai yang memiliki tiga kombinasi warna air laut, diantaranya putih, biru muda dan biru tua kehijauan. Ketiga air tersebut terpisah satu sama lain.

Bukan hanya itu, keindahan terumbu karang Pantai Nirwana menjadi daya tarik tersendiri para turis untuk melakukan penyelaman. Gugusan karang dan ikan-ikan serta jutaan biota laut lainnya akan menjadi pemandangan bagi pengunjung ditempat ini.

Olehnya itu, tak heran jika di pantai Nirwana ini kerap kita temui aktivitas para turis mancanegara melakukan penyelaman (diving) dan pemotretan bawah laut.
Sunset pantai Nirwana (Foto : jaring-ide)

Pantai ini juga memiliki pemandangan matahari terbaik, saat terbit “sunrise” maupun terbenam “sunset”.

Yang pasti, Pantai Nirwana menyajikan keindahan alam yang lengkap, di atas dan di bawah permukaan air laut.

Lokasi & Akses Pantai yang sudah jadi primadona di Kota Bau-Bau ini, sangatlah mudah dijangkau. Dengan perjalanan darat, hanya sekitar 15 menit dari pusat kota Bau Bau, atau hanya beberapa menit dari Bandara Betoambari. Selamat berwisata untuk Anda semua

Air Terjun Tirta Rimba, Bau-Bau
Air terjun Tirta Rimba adalah salah satu objek wisata alam yang layak anda kunjungi di Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Karena tempat wisata ini menawarkan eksotisme alam yang tak dimiliki objek wisata lain. Olehnya itu, tak heran jika air terjun Tirta Rimba ini menjadi salah satu tempat wisata yang paling populer disana. Karena selain pemandangannya luar biasa dan letaknya strategis, juga biaya masuk murah meriah.
         Air Terjun Tirta Rimba, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara (Foto : time.nitrod.com)

Ya, sebagian besar Penduduk setempat menyebut air terjun Tirta Rimba ini, dengan sebutan “Air Jatuh”

Namun apapun namanya, wisata air terjun ini yang memiliki ketinggian sekitar 6 meter dan lebar sekitar 5 meter tersebut, bisa membuat anda semakin enjoy berwisata.

Air terjun ini, berada dalam kawasan hutan lindung yang juga merupakan kawasan wisata alam yang banyak memiliki daya tarik tersendiri hingga memukau pengunjungnya agar betah ditempat ini.

Airnya mengalir dari atas batu alam besar yang mengarah kekolam dengan ukuran sekitar 10 × 7 meter, dilengkapi dengan papan tempat seluncur seperti kolam renang pada umumnya. Dan airnya sangat jernih karena memang tempat ini adalah salah satu daerah konservasi dan pengawasan secara langsung dari pihak Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Sambil berenang, ditempat ini pengunjung juga dihibur oleh kicauan segerombolan burung saling bersautan dengan deru angin diatas ranting pepohonan serta suara air terjun.

Tidak hanya itu, rongga batu besar yang ada pada air terjun ini, biasanya juga tak luput dari’serbuan’ para pengunjung untuk dijadikan sebagai objek foto-foto mereka.

Karena eksotisme alamnya sangat luar biasa, maka untuk melengkapi wisata air disini, pengunjung dapat melakukan kegiatan lain seperti; jelajah sungai dan jelajah hutan diareal air terjun ini.
Para pengunjung Air Terjun Tirta Rimba (Foto : wisata.kompasiana)

Namum sayang, karena kendati wisata air terjun ini menjadi salah satu tempat wisata paling populer disana. Tapi kekurangannya karena tidak ada warung makan ditempat ini. Hanya terkadang penjual musim-musiman. Nah, sekedar saran untuk Anda yang berencana berkunjung ditempat ini, ada baiknya bawa bekal sendiri loh untuk mengantisipasi perut keroncongan hehe…..

Lokasi & Akses
Air terjun Tirta Rimba ini, terletak di Kelurahan Lakologou, Kecamatan Wolio, Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, yang berjarak sekitar 4 Km dari sebelah barat pusat Kota Bau-Bau.

Untuk perjalanan menuju tempat wisata ini, dapat ditempuh dengan transportasi darat dengan menggunakan mobil atau sepeda motor, yang hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota.

Sementara untuk pengunjung berasal dari luar Bau-Bau, Anda bisa menggunakan pesawat atau kapal PELNI yang akan bersandar di Pelabuhan Murhum, Bau-Bau.

Berkunjung ketempat wisata ini memang luar biasa dan sungguh sangat menyenangkan, untuk itu peran semua pihak untuk menjaga serta merawat dan melestarikan adalah sebuah tanggung jawab bersama. Selamat berwisata untuk Anda semua.

Sumber : http://wisatasulawesi.com

Kamis, 29 Mei 2014

SEJARAH KABUPATEN SOMOROTO YANG BERADA DI WILAYAH PONOROGO

Artikel ini mencoba untuk menjelaskan tentang sejarah Kabupaten Somoroto. Disini juga akan dijelaskan mengenai letak geografis Kabupaten Somoroto, korelasi Kabupaten Somoroto dengan Kabupaten Ponorogo, tokoh-tokoh yang pernah menjabat sebagai Bupati Somoroto, dan juga Pasarean Srandil yang merupakan makam peninggalan keturunan Bupati-bupati Somoroto. Kabupaten Somoroto dulunya disebut dengan Kabupaten Kutho Kilen. Kabupatennya pun terletak di Dusun Carat yang berada di utara jalan besar Ponorogo-Badegan. Alon-alon Kabupaten Somoroto dulu terletak di bangunan gedung Puskesmas dan Kantor Kecamatan Kauman. Kabupaten Somoroto berdiri antara tahun 1780-1887.
Kata Kunci: Letak geografis, Korelasi, Tokoh-tokoh, Pasarean Srandil

Kabupaten Somoroto didirikan oleh Raden Mas Tumenggung Prawiradirja pada tahun 1805, beliau adalah keturunan ke-13 dari Raja Majapahit Brawijaya V. Raden Tumenggung Prawiradirja adalah putra dari Raden Tumenggung Wirareja, putra dari Kyai Sutowijoyo, putra dari Kyai Sutojoyo, putra dari Kyai Ageng Cucuk Singowongso, putra dari Kyai Ageng Cucuk Dhepok, putra dari Kyai Ageng Cucuk Telon, putra dari Kyai Ageng Karangelo, putra dari Kyai Ageng Ampunan, putra dari Panembahan Jogorogo, putra dari Raden Alit, putra dari Raden Patah, putra dari Raden Patah, putra dari Brawijaya V raja Majapahit.
 

Wirareja adalah seorang pedagang arang yang tinggal di kampung Coyudan Solo. Kemudian atas perantaraan temannya, Wirareja diangkat sebagai pegawai Istana Surakarta yang bekerja sebagai pembaca tembang istana. Wirareja memiliki seorang puteri yang cantik yang bernama Roro Handawiyah (Roro Berook) “si Penari Bedaya Istana”. Yang kemudian pada tahun 1762 dinikahi oleh Sunan Pakubuwono III dan sekaligus diangkat sebagai istri permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Kencana. Pernikahan tersebut mengakibatkan status sosial Wirareja menjadi terangkat. Wirareja nantinya diangkat sebagai Bupati Nayaka di Keraton Surakarta dengan gelar Raden Tumenggung Wirareja dan istrinya mendapat gelar Bendara Raden Ayu Ibu.

Bupati Somoroto 1
Pada tahun 1780, putra Raden Tumenggung Wirareja yang laki-laki (adik dari Kanjeng Ratu Kencana) yang bernama Prawiradirja diperintahkan oleh Sunan Pakubuwono III untuk membuka (babat) daerah baru di sebelah barat Sungai Sekayu yang dikenal dengan Hutan Kasihan dan Hutan Sambirata untuk mendirikan kota baru. Disitulah ditemukan tempat yang datar / papan kang waroto wangun mbatok mengkurep (tempat yang datar dan berbentuk tempurung yang tengkurup) yang begitu baik untuk didirikan sebuah kota, oleh karena itu kedua hutan tersebut nantinya diberi nama Somoroto (Samarata).
Secara de facto Kabupaten Somoroto mulai berdiri pada tahun 1780, tetapi secara de jure baru berdiri tahun 1805, yaitu saat Sunan Pakubuwono IV (putra dari Sunan Pakubuwono III) secara resmi mengangkat Prawiradirja sebagai bupati di derah tersebut (Somoroto) dengan gelar Raden Mas Tumenggung Prawiradirja. Wilayahnya mengambil sebagian dari wilayah Kabupaten Ponorogo warisan Bathara Katong dengan batas Sungai Sekayu ke barat terus ke selatan sampai ke Selahung. Pusat pemerintahannya (pendopo kabupaten) terletak di tapal batas Desa Carat dengan Desa Kauman yang sekarang ditempati SMAN 1 Kauman. Sedangkan alun-alunnya sekarang menjadi Puskesmas dan Kantor Kecamatan Kauman, dan masjidnya menjadi Masjid Jami’ Kauman sekarang. Berdirinya kabupaten baru tersebut juga direstui oleh Bupati Ponorogo Raden Tumenggung Surodiningrat I, pamannya sendiri karena istri dari sang bupati adalah adik dari ayahanda Raden Tumenggung Wirareja.
 

Berdirinya Kabupaten Somoroto sangat penting untuk mengamankan daerah Ponorogo, terutama bagian barat. Hal ini dikarenakan situasi Kabupaten Ponorogo Kutho Wetan dalam keadaan kacau. Kekacauan ini dipicu oleh ulah bupatinya sendiri yang hanya mengutamakan kesenangan dirinya sendiri daripada memperhatikan kehidupan rakyatnya. Sang bupati, Raden Tumenggung Surodiningrat I memiliki 23 istri dan selir dengan memiliki anak sebanyak 135 orang. Akibatnya anak-anak beliau saling berebut kekuasaan sehingga suasana pemerintahan di Kabupaten Ponorogo Kutho Wetan sangat kacau. Berdirinya Kabupaten Somoroto tentunya mendapat dukungan masyarakat banyak terutama masyarakat yang tinggal di sebelah barat Sungai Sekayu yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Ponorogo Kutho Wetan.

Bupati Somoroto II
Setelah Raden Mas Tumenggung Prawiradirja meninggal dunia, Kabupaten Somoroto kemudian diperintah oleh putranya yang bernama Raden Mas Tumenggung Sumonagoro (Bupati Somoroto II). Masa pemerintahan beliau bersamaan dengan Perang Diponegoro (1825-1830) dan pelaksanaa Tanam Paksa (1830-1870). Pada masa Tanam Paksa, Bangsa Indonesia dipaksa oleh Pemerintah Belanda untuk menanam tanaman yang laku di pasaran Eropa, khusus untuk daerah Ponorogo diwajibkan untuk menanam kopi dan tom (bahan untuk membuat batik atau tekstil).
Pelaksanaan Taman Paksa ini diserahkan sepenuhnya kepada bupati masing-masing. Selain itu untuk mensukseskan pelaksanaan Tanam Paksa, Pemerintah Belanda memberi iming-iming hadiah atau persen kepada para bupati yang bisa mengumpulkan hasil pertanian melebihi ketentuan ynag ditetapkan oleh Pemerintah Belanda. Akibatnya banyak bupati yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hadiah dengan cara memaksa rakyatnya untuk bekerja melebihi kemampuannya.
 

Berbeda dengan Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, beliau adalah seorang bupati yang berwawasan ke depan, beliau sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Beliau sadar jika rakyat Somoroto dipaksa untuk menanam kopi dan tom, yang akan terjadi adalah bencana kelaparan.Sebab kopi dan tom bukan makanan pokok yang dapat memenuhi kehidupan rakyat Somoroto, tetapi semata-mata untuk memenuhi kepentingan penjajah yang serakah sehingga rakyat Somoroto tidak diperintah untuk menanam kopi dan tom, tetapi rakyatnya diperintah untuk tetap menanam padi.
 

Peristiwa tersebut diketahui oleh pihak Belanda, yang membuat Raden Mas Tumenggung Sumonagoro dipanggil ke Surabaya untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Meskipun beliau sudah mengemukakan alasan yang sangat rasional tentang penolakan penanaman kopi dan tom, namun pihak Belanda tetap tidak mempedulikan, bahkan beliau dijatuhi hukuman yaitu dibuang ke Sulawesi. Sebelum beliau dibuang ke Sulawesi, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia, kemudian jenazahnya dimakamkan di Ampel Surabaya. Sepeninggal Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, pemerintahan di Somoroto dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Mas Brotodirjo.

Bupati Somoroto III
Pada masa pemerintahan Raden Mas Brotodirjo (Bupati Somoroto III), tepatnya pada tahun 1837 atas campur tangan pemerintah Belanda dengan alasan untuk memudahkan pengawasan terhadap daerah Ponorogo dan sekitarnya, Pemerintah Belanda berkeinginan untuk menggabungkan empat kabupaten yang ada di Ponorogo menjadi satu. Tetapi keinginan Belanda tersebut ditentang oleh bupati Somoroto Raden Mas Brotodirjo ”jika Kabupaten Somoroto dihapus dan digabung menjadi satu kabupaten dengan ketiga kabupaten lainnya, kami tidak bertanggung jawab jika terjadi kerusuhan dimana-mana”.
 

Ancaman Bupati Somoroto tersebut bukan hanya omong kosong. Pemerintah Belanda yang ada di Ponorogo dan Madiun menyadari kalau situasinya belum kondusif. Secara nasional, pemerintah Belanda baru saja memadamkan Perlawanan Pangeran Diponegoro, dan pada masa itu pula pemerintah Belanda masih berusaha memadamkan Perlawanan Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat. Sedangkan di daerah Ponorogo, pemerintah Belanda baru saja memadamkan perlawanan Tumenggung Polorejo. Situasi yang kurang kondusif itu mengakibatkan pemerintah Belanda mengabulkan permintaan Bupati Somoroto untuk tetap berdiri sendiri lepas dari Kabupaten Ponorogo Kota Tengah. Sehingga pada tahun 1837 di Ponorogo hanya terdapat dua kabupaten, yang pertama yaitu Kabupaten Ponorogo Kota Tengah yang merupakan gabungan dari Kabupaten Ponorogo Kutho Wetan, Kabupaten Pedanten dan Kabupaten Polorejo, dan yang kedua yaitu Kabupaten Somoroto itu sendiri yang biasa disebut Kutho Kilen.
 

Pada tahun 1855 Raden Mas Brotodirjo meninggal dunia dalam usia 45 tahun yang jenazahnya dimakamkan di Pasarean Srandil. Sedangkan pemerintahan di Somoroto dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Mas Brotodiningrat.
Bupati Somoroto IV
Secara geneologis, Raden Mas Brotodiningrat Bupati Somoroto IV ini masih ada keturunan darah raja-raja Madura, terutama dari pihak ibu, yaitu keturunan Sultan Bangkalan I. Sultan Bangkalan I memiliki anak yang bernama Raden Ayu Andajasmani yang menjadi permaisuri dari Sunan Pakubuwono IV raja Surakarta yang kemudian menurunkan Sunan Pakubuwono V. Sunan Pakubuwono V memiliki putra yang bernama Pangeran Sindusenan. Pangeran Sindusenan memiliki putri Raden Ayu yang kemudian menjadi istri dari Raden Mas Brotodirjo 


Bupati Somoroto III yang menurunkan Raden Mas Brotodiningrat.
Pada waktu ayahandanya Raden Mas Brotodirjo meninggal dunia pada tahun 1855, Raden Mas Brotodiningrat masih berumur 6 tahun. Oleh karena itu pemerintahan di Somoroto diwakilkan kepada patihnya, Raden Mas Sumoatmodjo (1855-1869). Baru pada tahun1869 beliau diangkat sebagai Bupati SomorotoIV sampai tahun 1877. Selama memerintah di Somoroto, tidak ada berita tentang pemerintahannya. Namun yang jelas sejak tahun 1877 Kabupaten Somoroto dihapus yang kemudian digabung dengan Kabupaten Ponorogo Kutho Tengah. Agar tidak terjadi gejolak, 


Raden Mas Brotodiningrat dialih tugaskan oleh pemerintah Belanda menjadi Bupati Ngawi, dan beberapa tahun kemudian dipindah menjadi Bupati Madiun. Selama beliau memerintah di Madiun beliau sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Beliau berhasil menyelamatkan rakyatnya diambang kelaparan. 

Keberhasilan Bupati keturunan darah Madura tersebut dalam membela rakyatnya dari pihak Belanda mendapat perhatian dari berbagai pihak, terutama dari bupati-bupati yang ada di wilayah Karesidenan Madiun. Bahkan penguasa Kasunanan Surakarta Sunan Pakubuwono VII menganugerahi gelar “adipati” pada sang bupati, sehingga namanya menjadi Raden Mas Adipati Brotodiningrat. Beliau meninggal dunia pada 1927, jenazahnya dimakamkan di Pasarean Srandil.

Pasarean Srandil
Pasarean (Astana) Srandil terletak di Desa Srandil, Kecamatan Jambon atau 11 km ke arah barat Kota Ponorogo menuju Badegan. Pasarean Srandil merupakan kompleks atau himpunan kesatuan dari beberapa makam para keturunan Bupati Somoroto.
Ditinjau dari segi geografis, Pasarean Srandil terletak di areal perbukitan yang saling sambung menyambung yang semuanya berjumlah lima bukit. Jika diurutkan mulai dari barat ke timur, kelima bukit tersebut adalah Bukit Lemu, Bukit Bancak, Bukit Ngrayu, Bukit Srayu, dan Bukit Srandil. Sedangkan Pasarean Srandil terletak di Bukit Srayu yang artinya “Sugeng Rahayu” atau bukit pembawa keselamatan. 


Tokoh pertama yang dimakamkan dan yang menjadi cikal bakal berdirinya Pasarean Srandil adalah Raden Mertokusumo, yaitu patih dari Kabupaten Polorejo yang menjadi pendukung Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda.
Setelah Raden Tumenggung Brotonegoro Bupati Polorejo gugur dalam melawan penjajah Belanda, patihnya yang bernama Raden Dipotaruno berhasil meloloskan diri, kemudian beliau melarikan diri ke Desa Srandil dan bersembunyi di Goa Batu yang ada di bukit Ngrayu. Setelah situasinya aman, beliau memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan diperkirakan sejak saat itu beliau berganti nama menjadi Raden Mertokusumo dalam usaha menghindari usaha pengejaran prajurit Belanda. Oleh karena itu masyarakat Srandil lebih mengenal nama Raden Mertokusumo daripada Raden Dipotaruno sampai sekarang. Di Desa Srandil, Raden Mertokusumo menjadi sesepuh dan panutan masyarakat Srandil bersama Kyai Mohibat, putra Kyai Kasan Yahya dari Tegalsari, yakni tokoh pertama yang membuka (membabat) Desa Srandil. Kedua tokoh tersebut sangat dihormati oleh masyarakat Srandil sampai sekarang.
 

Sebelum Raden Mertokusumo meninggal dunia,beliau berpesan kepada masyarakat Srandil, bahwa jika beliau meninggal dunia, jenazahnya supaya dimakamkan di Bukit Srayu yang artinya Sugeng Rahayu atau bukit pembawa keselamatan. Karena atas pertolongan Allah, di Bukit Srayu itulah beliau berhasil menyelamatkan diri dari kejaran prajurit Belanda.
 

Pada waktu Kabupaten Somoroto diperintah oleh Raden Mas Tumenggung Sumonagoro (Bupati Somoroto II) sekitar tahun 1830-an, beliau mengajukan permohonan kepada Raja Surakarta Sunan Pakubuwono IV agar Desa Srandil yang luasnya 70 hektar dijadikan sebagai daerah perdikan (bebas pajak) untuk menjaga dan memelihara Pasarean Srandil dan sekaligus akan dijadikan sebagai pemakaman para keturunan bupati Somoroto. Dan permohonan tersebut dikabulkan oleh Sunan Pakubuwono IV. Kemungkinan pembuatan pagar keliling yang berukuran 24m x 24m pada Pasarean Srandil yang tetap kokoh sampai sekarang sudah dimulai pada masa pemerintahan Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, yang kemudian disempurnakan pada tahun 1931 sesuai petunjuk papan nama yang terdapat pada Pasarean Srandil.
Jika dibandingkan dengan makam-makam Islam yang ada di Nusantara, Pasarean Srandil termasuk pemakaman yang relatif muda usianya, yaitu dibangun pada abad ke-19. Namun ciri khas sebagai “makam Islam Nusantara” masih tetap melekat, seperti adanya pengaruh budaya asli bangsa Indonesia budaya Hindhu maupun budaya lokal (Jawa).
 

Ditinjau dari segi tata letak makam, Pasarean Srandil terletak di areal perbukitan yang menganut pola pembagian pelataran menjadi tiga halaman. Halaman pertama berada di luar gedung, sedangkan pelataran kedua dan ketiga berada di dalam gedung. Pola pembagian pelataran menjadi tiga halaman tersebut merupakan budaya asli bangsa Indonesia, yakni menyerupai punden berundak-undak, yaitu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang berbentuk piramida berteras, dimana bagian belakang lebih tinggi dari bagian depan.
 

Biasanya pada halaman belakang (halaman ketiga) terdapat makam yang paling dikeramatkan. Terbukti selain terdapat makam Raden Mertokusumo sebagai cikal bakal Pasarean Srandil, juga terdapat dua makam bupati Somoroto, yakni makam Raden Mas Brotodirjo Bupati Somoroto III dan makam Raden Mas Adipati Brotodiningrat Bupati Somoroto IV. Lain halnya dengan makam Raden Mas Tumenggung Prawiradirja Bupati Somoroto I, makamnya berada di Pasarean Setono Ponorogo, sedangkan Raden Mas Tumenggung Sumonagoro Bupati Somoroto II makamnya berada di Ampelgading Surabaya.
 

Ditinjau dari segi arsitektur makam, adanya pengaruh budaya Hindu Budha Jawa masih tetap melekat. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kori agung yaitu gapura yang berpintu dan beratap sebagai pintu gerbang tempat keluar masuk makam dari halaman pertama menuju halaman kedua dan ketiga. Kori agung merupakan peninggalan budaya agama Hindu yang berfungsi sebagai pintu gerbang bangunan candi. Setelah Islam mulai berkembang, kori agung dijadikan sebagai pintu gerbang makam dan pintu gerbang masjid. Kori agung (gapura) pada Pasarean Srandil yang atapnya berbentuk “limasan” adalah bukti adanya pengaruh budaya lokal (Budaya Jawa), karena ”limasan” itu sendiri merupakan ciri khas bangunan rumah Jawa selain joglo dan serotong.
 

Kabupaten Somoroto didirikan oleh Raden Mas Tumenggung Prawiradirja, beliau adalah keturunan ke-13 dari Raja Majapahit Brawijaya V. Raden Tumenggung Prawiradirja adalah putra dari Raden Tumenggung Wirareja. Wirareja adalah seorang pedagang arang yang tinggal di kampung Coyudan Solo. Wirareja mempunyai puteri yang bernama Roro Handawiyah (Roro Berok). Yang kemudian pada tahun 1762 dinikahi oleh Sunan Pakubuwono III dan sekaligus diangkat sebagai istri permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Kencana. Pernikahan tersebut mengakibatkan status sosial Wirareja menjadi terangkat. Akhirnya Wirareja diangkat sebagai Bupati Nayaka di Keraton Surakarta dengan gelar Raden Tumenggung Wirareja dan istrinya mendapat gelar Bendara Raden Ayu Ibu.
 

Pada tahun 1780, putra Raden Tumenggung Wirareja (adik dari Kanjeng Ratu Kencana) yang bernama Prawiradirja diperintahkan oleh Sunan Pakubuwono III untuk membuka (babat) daerah baru di sebelah barat Sungai Sekayu yang dikenal dengan Hutan Kasihan dan Hutan Sambirata untuk mendirikan kota baru. Disitulah ditemukan tempat yang datar / papan kang waroto wangun mbatok mengkurep (tempat yang datar dan berbentuk tempurung yang tengkurup) yang begitu baik untuk didirikan sebuah kota, oleh karena itu kedua hutan tersebut nantinya diberi nama Somoroto (Samarata). Yang akhirnya Prawiradirja diangkat sebagai bupati di daerah tersebut (Somoroto) dengan gelar Raden Mas Tumenggung Prawiradirja. Selain Prawiradirja, bupati-bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Somoroto yaitu Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, Raden Mas Brotodirjo, dan Raden Mas Brotodiningrat.
 

Bupati-bupati Somoroto yang meninggal, selanjutnya dimakamkan di Pasarean (Astana) Srandil yang terletak di Desa Srandil, Kecamatan Jambon atau 11 km ke arah barat Kota Ponorogo menuju Badegan. Pasarean Srandil merupakan kompleks atau himpunan kesatuan dari beberapa makam para keturunan Bupati Somoroto. Jika dibandingkan dengan makam-makam Islam yang ada di Nusantara, Pasarean Srandil termasuk pemakaman yang relatif muda usianya, yaitu dibangun pada abad ke-19. Namun ciri khas sebagai “makam Islam Nusantara” masih tetap melekat, seperti adanya pengaruh budaya asli bangsa Indonesia budaya Hindhu maupun budaya lokal (Jawa). adanya pengaruh budaya Hindu Budha Jawa masih tetap melekat. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kori agung yaitu gapura yang berpintu dan beratap sebagai pintu gerbang tempat keluar masuk makam dari halaman pertama menuju halaman kedua dan ketiga. Kori agung merupakan peninggalan budaya agama Hindu yang berfungsi sebagai pintu gerbang bangunan candi. Setelah Islam mulai berkembang, kori agung dijadikan sebagai pintu gerbang makam dan pintu gerbang masjid. Kori agung (gapura) pada Pasarean Srandil yang atapnya berbentuk “limasan” adalah bukti adanya pengaruh budaya lokal (Budaya Jawa), karena ”limasan” itu sendiri merupakan ciri khas bangunan rumah Jawa selain joglo dan serotong.

Sumber : http://nikenpranandari.blogspot.com

Wisata Religi

Mbah Ngaliman

Berdirinya sebuah negara atau daerah termasuk Nganjuk yang dikenal sebagai Bumi Anjuk Ladang, tentu tidak terlepas dari sejarah perjuangan masa lampau, para leluhur, atau nenek moyang yang telah babad alas, hingga tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini.
Pada saat para wisatawan yang akan menikmati indahnya air terjun Sedudo, di dekat pintu gerbang obyek wisata akan menjumpai lokasi makam yang disebut makam Ki Ageng Ngaliman. Bagaimana sejarhnya ?.
Berdasarkan data dan informasi yang direkam oleh Tim Penelusuran Sejarah Ngaliman yang melibatkan berbagai nara sumber baik yang berada di daerah Ngliman antara lain Mbah Iro Karto (sesepuh masyarakat), Drs. Sumarsono (Kades Ngliman)...............

Parmo (Mantan Kades Ngliman) , Suprapto (mantan Kades Sidorejo), Imam Syafi’i (Juru Kunci Makam), Sumarno (Kamituwo), Sarni (Jogoboyo) maupun nara sumber yang berada diluar daerah Ngliman antara lain Kyai Ahmad Suyuti (Ngetos), KH. Qolyubi (Keringan), KH. Moh. Huseini Ilyas (Karang Kedawang , Trowulan Mojokerto). KH. Moh. Huseini Ilyas ini merupakan salah satu keturanan Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon, maka tersusunlah tulisan seperti di bawah ini.
Di Desa Ngliman terdapat dua makam yang sama-sama disebut Ki Ageng Ngaliman. Akan tetapi guna membedakan kedua makam tersebut maka digunakan sebutan :
a. Makam Gedong Kulon ;
b. Makam Gedong Wetan.
Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon
Ki Ageng Ngaliman dimakamkan di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan + 50 Meter sebelah selatan Balai Desa Ngliman. Beliau dimakamkan bersama-sama dengan para sahabat dan pengikutnya. Dalam satu kompleks bangunan makam tersebut terdapat enam makam antara lain :
a. Ki Ageng Ngaliman ;
b. Pengeran Pati ;
c. Pangeran Kembang Sore ;
d. Pangeran Tejo Kusumo ;
e. Pangeran Blumbang Segoro ;
f. Pangeran Sumendhi.
Menurut nara sumber dari Ngliman bahwa di pintu depan Makam Ki Ageng Ngaliman terdapat gambar bintang, kinjeng, ketonggeng, burung dan bunga teratai. Gambar-gambar tersebut kemungkinan menunjukkan makna tersendiri, namun sampai saat ini penulis belum bisa mengungkapkannya.
 

Ki Ageng Ngaliman berasal dari Solo Jawa Tengah. Ketika Surakarta digempur oleh Belanda, maka oleh Nur Ngaliman yang pada waktu itu menjabat sebagai Senopati Keraton Surakarta dengan sebutan Senopati Suroyudo, Keraton Surakarta dikocor secara melingkar dengan air kendi. Akibat dari tindakan tersebut kendaraan pasukan Belanda luluh, waktu masuk keraton seperti masuk sarang angkrang, akhirnya beliau ditemui oleh Nabi Khidir agar menemui sanak saudaranya yang ada di Karang Kedawang Trowulan Mojokerto.
 

Ki Ageng Ngaliman masih keturunan Arab dan mempunyai anak sebanyak 21 orang. Keterangan ini diperoleh dari salah satu keturunan Ki Ageng Ngaliman yang bernama KH. Huseini Ilyas. Perang di Solo tersebut melibatkan kaum Cina yang dikenal dengan sebutan Perang Gianti pada sekitar tahun + 1720 M. (sumber : KH. Qolyubi).
SILSILAH KI AGENG NGALIMAN menurut KH. Huseini Ilyas adalah RONGGOWARSITO ----- NUR FATAH ----- NUR IBRAHIM ----- SYEH YASIN SURAKARTA ----- NUR NGALIMAN/ SENOPATI SUROYUDO ----- MUSYIAH ----- I L Y A S ----- KH. HUSEINI ILYAS (TROWULAN MOJOKERTO)
 

Perjalanan Hidupnya KH. Qolyubi tokoh ulama asal Kelurahan Mangundikaran itu berpendapat bahwa aktifitas yang dilakukan Ki Ageng Ngaliman adalah untuk mempersiapkan perjuangan melawan Belanda dengan diadakan pelatihan fisik dan mental yang bertempat di Padepokan yang sampai saat ini disebut Sedepok, dan di Sedudo yang letaknya di Puncak Gunung Wilis. Perjuangan tersebut ditujukan guna memerangi Pemerintah Belanda yang sedang ikut mengendalikan pemerintahan di Kasultanan Surakarta.
 

Dasar pemikiran yang melatarbelakangi hijrahnya Ki Ageng Ngaliman dari Solo ke Nganjuk adalah karena Nganjuk merupakan wilayah Kasultanan Mataram sehingga juga berguna untuk menghindari kecurigaan maka Ki Ageng Ngaliman melatih prajuritnya menetap di daerah Nganjuk yang merupakan wilayah kasultanan Mataram. Sehingga terjadilah kepercayaan bahwa siapa saja yang menyebut nama Kyai Ageng Ngaliman akan mati dimakan binatang buas sebab memang beliau dirahasiakan namanya agar supaya tidak diketahui oleh Kasultanan Solo.
 

Dalam perjalanan waktu menurut cerita bahwa desa Kuncir asal usulnya dari murid Ki Ageng Ngaliman yang meninggal dalam perjalanan di tempat tersebut, dia adalah seorang cina yang waktu itu cina memakai rambut yang dikuncir/dikepang sehingga tempat meninggalnya murid Ki Ageng Ngaliman tersebut di sebut Desa Kuncir.
Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ki Ageng Ngaliman merupakan seorang 


Kyai yang mempunyai keahlian nggembleng ulah kanuragan keprajuritan. Bagi masyarakat Ngliman, karomah yang dirasakan sampai saat ini adanya ketentraman dan kedamaian dalam kehidupannya.
 

Mengingat Ki Ageng Ngaliman yang mempunyai keahlian neggembleng ulah kanuragan keprajuritan maka banyak pusaka yang ditinggalkannya. Ki Ageng Ngaliman masih mempunyai peninggalan berupa tanah di depan Masjid Ngaliman sehingga oleh perangkat dusun waktu itu tanah tersebut dibangun sebuah tempat yang disebut dengan Gedong Pusaka dan peninggalan pusakanya Ki Ageng Ngaliman di tempatkan di Gedong pusaka tersebut. Sebenarnya pusaka Ki Ageng Ngaliman cukup banyak tetapi ada yang dicuri orang sehingga yang ada di Gedong Pusaka saat ini hanya ada beberapa pusaka.
 

Berdasarkan nara sumber dari Ngliman bahwa yang berada dan disimpan digedong pusoko antara lain :
a. Kyai Srabat ; (Hilang tahun 1976)
b. Nyai Endel ; (Hilang tahun 1976)
c. Kyai Berjonggopati; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua)
d. Kyai Trisula ; (Hilang tahun 1949 saat klas Belanda kedua)
e. Kyai Kembar
f. Dalam bentuk Wayang antara lain : Eyang Bondan, Eyang Bethik, Eyang Jokotruno, Kyai Panji, dan Nyai Dukun
g. Kamar 1 buah
h. Kotak Wayang Kayu 1 buah
i. Terbang
j. Almari tempat pusaka 2 buah
k. Tempat Plandean Tumbak
 

Pada bulan Suro diadakan jamasan pusaka Ki Ageng Ngaliman dan dikirap mengelilingi Desa Ngliman.
 

Air terjun yang ada di Ngliman sebenarnya banyak sekali antara lain : Sedudo, Segenting, Banyu Iber, Banyu Cagak, Banyu Selawe, Toyo Merto, Tirto Binayat, Banyu Pahit, Selanjar dan Singokromo.
 

Sedangkan yang mudah dan bisa dikunjungi adalah Sedudo dan Singokromo. Sedangkan yang lainnya seperti Banyu Cagak, Banyu Selawe, Banyu Iber hanya bisa dikunjungi dengan jalan setapak. 
Adapun air yang paling besar adalah Air terjun Banyu Cagak. Menurut pendapat dari Bapak Sarni (Jogoboyo Ngliman) bahwa untuk pengembangan Wisata perlu dibangun kolam renang di Ganter dan dibuatkan perkemahan.
Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan
 

Makam Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan terletak di Desa Ngliman + 100 M ke arah timur dari Kantor Desa Ngliman.
 

Mbah Iro Karto maupun KH. Qolyubi berpendapat bahwa Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan adalah keturunan dari Gresik. Menurut sejarah telah disepakati bahwa setiap pengangkatan Sultan yang dinobatkan terutama dari keturunan Demak harus mendapat restu dari keturunan Giri Gresik. Hal ini disebabkan karena sewaktu kerajaan Majapahit runtuh, oleh wali 9 yang diangkat menjadi Sultan adalah Kanjeng Sunan Giri. Setelah 100 hari setengah riwayatnya 40 hari, kesultanan dihadiahkan kepada Raden Patah.
 

Hal ini untuk menghindari citra bahwa Raden Patah merebut kekuasaan dari ayahnya sendiri. Dengan demikian setiap pergantian Sultan Demak yang menobatkan adalah keturunan Kanjeng Sunan Giri. Setelah kasultanan Pajang runtuh, Sultan Hadiwijoyo pindah ke Mataram. Dengan kejadian ini terjadi silang pendapat didalam keluarga Giri. Diantara keluarga yang tidak setuju dan kalah suara menyingkir ke Ngliman dan menyebarkan agama Islam di Ngliman yang kemudian dimakamkan di Ngliman Gedong Wetan, Karena beliau lebih cenderung pada keturunan Demak Asli.
 

Kemudian kepergian beliau ditelusuri oleh orang Demak asli bernama Dewi Kalimah yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Kebon Agung. Rentang waktu antara Ngaliman Gedong Wetan dengan Ngaliman Gedong Kulon terpaut waktu antara + 200 tahunan. Lebih tua Gedong Wetan. Setelah Ngaliman Gedong Wetan meninggal, keluarganya diboyong ke Kudus.
Demikian hasil penelusuran sumber sejarah mengenai riwayat Ki Ageng Ngaliman yang dihimpun dari berbagai nara sumber mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pengembangan obyek wisata religius. Dasar pemikiran yang sangat sederhana ini mudah-mudahan ada gayung bersambut dari pihak-pihak terkait guna pengkajian yang lebih mendalam.


Dari uraian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Beliau yang dimakamkan di Ngaliman Gedong Kuolon berasal dari Solo Jawa Tengah dan masih keturunan Arab dan merupakan Senopati Perang Keraton Solo yang bernama Senopati Suroyudo. Perpindahan tersebut terjadi pada saat pergolakan Perang Gianti sekitar abad 17.
2. Ki Ageng Ngaliman Gedong Kulon adalah Kyai yang ahli dalam hal penggemblengan ilmu kanuragan. Ini bisa di buktikan bahwa di Desa Ngaliman tidak ada Pondok Pesantren namun yang ada tempat peninggalan untuk latih keprajuritan dan beberapa pusaka.
3. Beliau yang dimakamkan di Gedong Wetan berasal dari Gresik Jawa Timur sekitar abad 15 saat terjadi silang pendapat tentang penentuan orang yang menjabat sebagai raja di kerajaan Demak
Kirab Pusoko
 

Tempat atraksi wisata budaya berupa Kirab Pusoko dipusatkan di Gedung Pusoko Desa Ngliman Kecamatan Sawahan. Acara Kirab Pusoko digelar setiap bulan Maulud (dikaitkan dengan Bulan Kelahiran Nabi Muhamad, SAW), pada acara Kirab Pusoko ini selain acara yang sudah bersifat pakem, diisi pula pemeran produk unggulan penunjang dunia kepariwisataan. Dengan demikian nampak lebih semarak.
 

Kirab pusaka biasanya dimulai sekitar pukul 09.00 itu berawal dari Dukuhan Bruno berjalan berarak-arakan menuju Gedung Pusoko berjarak sekitar 2,5 km. Saat itu pula warga di masing-masing pedukuhan mengadakan selamatan, dengan suguhan jajanan pala kependem. Yaitu seperti ketela, ubi, garut, kacang tanah dan lain-lainnya.
Pusoko yang dikirab berjumlah enam buah, sebagian banyak berupa wayang kayu. Kecuali Kyai 


Kembar yang berbentuk Cundrik Lar Bangao. Keenam pusaka itu ialah Kyai Bondan, Kyai Djoko Truno, Kyai Bethik, Kyai Kembar, dan Eyang Dukun serta Eyang Pandji. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa pusaka-pusaka itu banyak membawa tuah diantaranya untuk keberhasilan dunia pertanian dan juga berkah kesehatan. Sebab, seperti dituturkan oleh Sang Juru Kunci Gedung Pusoko Ngalimin (65), konon ceritanya dulu kala ketika Desa Ngliman diserang wabah penyakit termasuk tanaman pertaniannya, Kyai Bondan dan Kyai Djoko Truno keliling desa dengan ditandai bunyi klintingan. “ Karenanya, di daerah Ngliman dan sekitarnya, walaupun bayi dilarang mengenakan klinting” tambah mBah Ngalimin.
 

Acara ini tidak ada kaitannya dengan agama., Bahkan, acara seperti itu bisa saling melengkapi kasanah budaya khususnya budaya jawa. Oleh karenanya, kedepan acara serupa bisa dikemas sebagai sebuah atraksi wisata budaya yang layak jual.
 
Sumber : http://putra-wilis.blogspot.com

Senin, 26 Mei 2014

Wisata Propinsi Sulawesi Barat

Sulawesi Barat, adalah propinsi pemekaran Sulawesi Selatan, berdasarkan UU No 26 Thn 2004, dengan ibukota Mamuju, wilayahnya meliputi, 5 kabupaten yaitu, kabupaten Mamuju, kabupaten Majene, kabupaten Polewali Mandar, kabupaten Mamasa dan kabupaten Mamuju Utara, letak geografisnya berada pada posisi silang antara Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah, dan berhadapan langsung dengan Selat Makassar sebagai jalur pelayaran Nasional dan International. Kondisi Topografinya terdiri atas laut, dataran rendah serta dataran tinggi dengan tingkat kesuburan yang tinggi beriklim tropis .

Masyarakat Pesisir Sulawesi Barat terkenal sebagai pelaut ulung dengan perahu sandeq mereka menjelajah ke seluruh wilayah nusantara hingga ke Malaysia dan Australia sedangkan masyarakat yang berdiam di kawasan pegunungan memiliki kemiripan budaya dengan etnis Toraja seperti pada bentuk rumah, bahasa, pakaian serta upacara adat.

Sulawesi Barat memiliki daya tarik wisata alam yang fantastic dengan keasrian panorama pegunungan yang masih asli, keunikan budaya masyarakat serta sajian beragam jenis wisata minat khusus yang tersebar diberbagai wilayah pantai dan pegunungan yang memerlukan keahlian tersendiri untuk menaklukannya.

Beberapa destinasi wisata yang ada di Sulawesi Barat

AIR TERJUN TAMASAPI MAMUJU

ALAT TENUN IKAT TRADISIONAL SEKOMANDI

BAJU PRIMITIF (BABU)

BENDA-BENDA TRADISIONAL MANDAR

CENRAMATA

GUA LIDA PULAU KARAMPUANG

INDUSTRI KAIN TENUN MAMASA

KAIN SUTRA MANDAR

KAIN TENUN IKAT TRADISIONAL SEKOMANDI

KALUMPANG MAMUJU

KERAJINAN TRADISIONAL

KOMPLEX RUMAH ADAT MAMUJU

KUBURAN GUA BATU DI KALUMPANG

LESUNG BATU DI KALUMPANG

LOMBA DAYUNG PERAHU TRADISIONAL KULUBELANG

MINIATUR RUMAH ADAT MAMASA


MUMMI

OBYEK WISATA ALAM POLMAN

OBYEK WISATA BAHARI (BAGANG)

OBYEK WISATA TAMBAK MAMUJU

PASSAYANG SAYANG

PATUNG2 KAYU

Penenun Tradisional Sutra mandar

Kabupaten Mamuju

BENDI ( DOKAR ) HIAS

BUSANA ADAT KALUMPANG MAMUJU

Pulau Karampuang

Obyek daya tarik wisata bahari yang telah memiliki sarana pariwisata, berpasir putih, disekitar pulau ini terdapat terumbu karang yang masih alami.
Pantai Toangsang

Pantai dengan pesona hamparan pasir putih dan sangat menarik melepas sunset di senja hari.
Gunung Paken

Merupakan gugusan kepulauan dengan pemandangan lautnya yang menawan sangat cocok untuk ditempati berekreasi keluarga.
Air terjun Tamasapi

Dilokasi air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 70 m, di tempat ini wisatawan dapat menikmati udara segar pegunungan dengan air yang jernih dan alami.
Pureh

Obyek wisata keagamaan berupa bangunan bersejarah ini berpungsi sebagai tempat peribadatan pemeluk agama Hindu.
Monumen Ahmad Kirang

Dibangun untuk mengenang jasa seorang putra Manakarra yang gugur dalam peristiwa pembajakan Pesawat Garuda Indonesia Airways di Kolombo.
Banoa Sibatang

Rumah tradisional khas Kalumpang yang memiliki kontruksi dan bentuk spesifik sehingga mempunyai ciri khas tersendiri yang cukup menarik.
Rumah Adat Mamuju Rumah adat ini terdiri dari beberapa massa bangunan, yaitu : Salassa (rumah Raja) sebagai rumah induk, bandara raja, pengawal raja, lumbung pangan, pandai besi, pandai emas, kandang kuda dan kandang rusa.

Kabupaten Majene

Perayaan maulid

Pemandian air panas Limboro


Lokasinya berada di atas puncak pegunungan Limboro dengan udara sejuk, pemandangan alam indah dengan tanaman kemiri dan kakao.
Sandeq

Perahu layar tercepat di dunia, perahu ini memiliki keunikan tersendiri selain digunakan untuk menangkap ikan juga diperlombakan setiap tahunnya untuk menggiatkan wisata bahari. Perahu ini menjadi aset nasional dan menjadi bagian dari pengembangan pariwisata nusantara.

— Pantai Pasir Putih Rangas

Pantai ini menjorok ke laut tempat pembuatan perahu tradisional sandeq. Pantai ini terletak di kelurahan Totoli, + 5 km dari ibu kota kabupaten Majene.

— Pantai Dato

Pantai dengan panorama laut yang sangat menarik, disekeliling pantai ini terdapat tebing yang dapat digunakan sebagai tempat climbing.

— Museum Mandar

Sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah.

— Kompleks Makam Raja dan Anggota Adat

Berada pada ketinggian + 50 meter dari permukaan laut. Para wisatawan dapat menyaksikan keindahan kota Majene dari ketinggian ini.
Makam Syech Abdul Mannam

Syekh Abdul Mannan dikenal sebagai penyiar agama Islam pertama di Kabupaten Majene.

Kabupaten Polewali Mandar
Pantai Palippis

Obyek wisata bahari dengan panorama alam yang indah dan menarik sebagai hasil perpaduan pasir putih, perbukitan , tebing dan goa alam.
Pulau Gusung Toraya

Pulau ini seluas 1,5 Ha, memiliki panorama pantai yang indah, hamparan pasir putih yang menawan, cocok untuk berjemur , berenang, memancing, dan rekreasi.
Wisata alam Kunyi.

Berupa obyek wisata air terjun bertingkat tiga setinggi 30 m dengan airnya yang jernih , bersih dan sejuk , dikelilingi pepohonan langsat , durian, rambutan dan kopi sebagai lokasi wisata argo.
Wisata Agro Kanang

Merupakan perkebunan rakyat berupa durian , langsat dan rambutan , seluas 400 Ha yang di dalamnya terdapat sungai-sungai.
Bendungan Pengairan Sekka-Sekka

Disamping dimanfaatkan untuk pengairan persawahan juga menjadi obyek wisata tirta yang memiliki panorama alam indah, cocok untuk tempat pemandian , olah raga air, memancing dan rekreasi, dikelilingi perbukitan yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata buru.
Makam Imanyambungi (Todilaling)

Imanyambungi yang bergelar Todilaling adalah Raja pertama di Kerajaan Balanipa Mandar pada tahun 1520 M.
Makam Syech Al-Ma’ruf

Syech Al-Ma’ruf adalah penyiar agama Islam pada abad ke 16 di kerajaan Balanipa Mandar, diberi gelar Tosalama (orang yang dikeramatkan).

Kabupaten Mamasa

PANORAMA ALAM MAMASA

AIR TERJUN SOLLOKAN MAMASA
Air Terjun Liawan

Terletak di lokasi hutan yang ditunjang dengan tempat perkemahan. Di sini juga terdapat bangunan-bangunan tempat bersantai dan memasak serta membakar ikan.
Air terjun Sallokan dan Air Panas Malimbong

Terletak di gerbang wisata Kabupaten Mamasa dari arah selatan , objek wisata ini juga sangat cocok untuk tujuan wisata petualang.
Air Terjun Sambabo

Air terjun bertingkat tiga dengan ketinggian 300 m.
Pemandian Air Panas Kole

Ditempat ini terdapat beberapa kolam air panas alami, air panas ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit serta menyegarkan tubuh.
Gunung Mambulilling

Gunung setinggi 2.741 m dari permukaan laut merupakan tujuan ideal bagi pendaki gunung memiliki panorama pegunungan yang sangat attraktif untuk melakukan treeking di gunung ini.
Panorama Mussa Ballapeu

Disepanjang perjalanan menuju obyek wisata berketinggian 1.600 m ini, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang sanagt indah, beberapa bangunan bersejarah, serta perkampungan rumah adat tradisional Mamasa.
Sesena Padang Merupakan tempat ideal untuk wisata jalan kaki, sambil mengunjungi sejumlah perkampungan tradisional

Sumber : http://southcelebes.wordpress.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More