Pages

Kamis, 10 Maret 2011

Melacak Jejak Gajah Purba

KOMPAS.com – Temuan fosil gajah purba Elephas hysudrindicus di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, secara keilmuan sangat bernilai tinggi. Temuan Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung ini diklaim merupakan yang terlengkap selama 100 tahun terakhir dan fosilnya pun relatif utuh.

Fosil gajah purba tersebut diperkirakan berusia sekitar 800.000 hingga 200.000 tahun. Adapun tinggi gajah diperkirakan sekitar 2,5 meter karena kaki belakang gajah hanya sekitar 1,7 meter. ”Fosil itu bisa utuh karena terawetkan dalam tanah lempung,” kata Kepala Museum Geologi Bandung Yunus Kusumabrata.

Penggalian fosil itu dilakukan Februari hingga April 2009 menyusul ditemukannya gading gajah purba pada Januari 2009 lalu di lokasi yang sama, Dusun Sunggun, Desa Medalem, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Di kawasan tersebut juga ditemukan daun purba yang tercetak di batu lanau. Batu itu terbentuk dari proses sedimentasi butiran lempung dan pasir. Ditemukan pula fosil kerbau purba di kawasan tersebut.

”Berdasarkan temuan-temuan itu, tampaknya kawasan Blora Selatan merupakan savana pada zaman Pleistosen yang dilewati Bengawan Solo Purba,” kata anggota Tim Vertebrata Museum Geologi Bandung, Iwan Kurniawan.

Khusus fosil gajah, temuan ini sangat istimewa karena tergolong lengkap. Iwan Kurniawan mengatakan, fosil gajah jenis Elephas itu terdiri atas tengkorak dengan gigi yang masih utuh, tulang lengan belakang, iga, pinggul, belikat, dan paha.
Penemuan ini secara keilmuan juga sangat berarti karena mampu menjelaskan mata rantai kehidupan gajah purba di Indonesia.
Sebelumnya, di sekitar Jawa Tengah juga pernah ditemukan fosil gajah berumur lebih tua, yaitu Sinomastodon bumiayunensis (sekitar 1,5 juta tahun lalu) dan Stegodon trigonocephalus (sekitar 1,2 juta tahun) serta Elephas maximus atau gajah Asia yang hingga kini spesiesnya masih ada.

”Sejarah panjang yang menemani fosil ini bisa menjadi daya tarik penelitian yang memiliki nilai ilmiah tinggi,” kata Ketua Tim Vertebrata Museum Geologi Fachroel Azis.
Tidak heran setelah penemuan ini tim tertantang untuk melakukan penelitian di kawasan aliran Sungai Walane Purba di Sulawesi Selatan dan di Kabupaten Gowa, serta di daerah Betun, Atambua, Nusa Tenggara Timur.
Tujuannya adalah melacak jejak migrasi gajah purba di Indonesia serta kemungkinan jejak manusia purbanya.
Sejak zaman es

Azis mengatakan, perjalanan sejarah gajah purba bisa ditelusuri sejak zaman es. Zaman es sangat memengaruhi pola penyebaran makhluk hidup dan manusia di Indonesia.
Pembekuan membuat banyak pulau menyatu. Salah satunya, ketika Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera menyatu dengan Benua Asia yang kemudian disebut sebagai Paparan Sunda.
Hal ini menyebabkan makhluk hidup Asia masuk ke Jawa dan Sumatera melalui jalan darat. Mereka masuk melalui daratan Indo China-Semenanjung Malaysia. Hal itu dibuktikan penemuan fosil di Cekungan Bandung. Di antaranya, fosil gajah purba Elephas maximus di Rancamalang, Kabupaten Bandung.

Bukti lain adalah penemuan fosil vertebrata di Kubah Sangiran, Jawa Tengah, di antaranya Sinomastodon bumiayunensis. Di daerah Sambung Macan juga ditemukan fosil Stegodon trigonocephalus.
Penemuan juga terjadi Cekungan Soa, Nusa Tenggara Timur, dan Walannae, Sulawesi Utara. Makhluk hidup di sana diyakini datang dari Filipina-Sangihe-Sulawesi-Flores-Timor- Sumba. Mereka disebutkan pandai berenang karena mampu menembus isolasi antarpulau yang dipisahkan laut dan palung yang dalam.
”Akibat isolasi, kecenderungan makhluk hidup yang hidup di darat alami pengerdilan (dwarfting), sedangkan reptil, seperti kura-kura, bertambah besar (gigantic),” kata Azis.

Contohnya, fosil stegodon kerdil, Stegodon sondaari berumur 1 juta tahun lalu ditemukan di Cekungan Soa. Di Cekungan Wallacae, Sulawesi Utara, ditemukan fosil gajah kerdil, Elephas celebensis. Gajah ini memiliki keunikan pada dua gading di rahang atas dan rahang bawah.
Bermodalkan sejarah panjang yang tidak ditemui di negara lain, Azis menyayangkan apabila nasibnya berhenti ketika fosil yang ditemukan dipamerkan. Banyak potensi yang sebenarnya bisa digali, khususnya memberdayakan kawasan penemuan fosil, seperti potensi pendidikan melalui penelitian lanjutan atau fungsi pariwisata sebagai pendongkrak ekonomi warga sekitar tempat penggalian.

Sebagai tempat penelitian, Azis mengatakan, penemuan fosil bisa membuka pintu disiplin ilmu lainnya. Di antaranya, mempelajari kondisi alam ketika kehidupan terjadi ribuan tahun yang lalu, kondisi geologi di sekitarnya, hingga kemungkinan adanya penemuan fosil lain.

Pemanfaatan juga bisa dilakukan sebagai tempat wisata. Alasannya, dalam lokasi penemuan, fosil kemungkinan besar tidak hanya ditemukan di satu tempat. Di tempat yang berdekatan biasanya ditemukan jejak sejarah lainnya. Hal itu membuka peluang untuk membuat suatu kompleks wisata yang bisa dikunjungi.
Menurut peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, pengelolaan tempat penemuan fosil yang lantas dijadikan museum di Indonesia sangat minim. Padahal, banyak tempat penemuan fosil skala besar atau kecil, seperti Goa Pawon, Tambaksari, Cijulang dan Cisadane, Ciharuman, Cijerah, Subang, Kuningan, serta Cirebon, Jawa Barat. Semuanya belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Sumber: http://sains.kompas.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More