Pages

Kamis, 10 Maret 2011

Koteka menatap modernisasi


“Wah wah wah wah “ suara itu bersahut sahutan memenuhi perkampungan Suku Dani di desa Jiwika – distrik Kurulu, Lembah Baliem – menyambut kedatangan kami. Artinya, terima kasih atas kedatangannya. Dusun yang luas ini terletak di dilereng bukit yang tinggi, dengan sebuah sungai kecil membelah hutan kecil disisinya.

Para lelaki keluar satu per satu dari pondok kayu berbentuk bulat dengan atap rerumputan yang disebut Honai, langsung menjabat erat tangan kami. Hangat dan sangat bersahabat. Semua lelaki dewasa tinggal bersama sama di pondok honai yang disebut Pilamo. Beberapa pasang mata tampak hanya menyelidik dari dalam kegelapan honai.
Sementara kaum wanita duduk duduk bersama anak anaknya di depan rumah pondok kayu memanjang. Rumah ini merupakan tempat tinggal wanita dan anak anak sekaligus berfungsi sebagai rumah dapur. Lebih tepatnya sebagai penyimpanan logistik bahan makanan, karena mereka memasak di halaman. Pondok bagi wanita dan anak anak disebut Ebeaila.

Yali Mabel, sang kepala suku menyeringai lebar sambil menghisap rokok tembakau local cap “ Anggur Kupu “. Wajahnya keras dan tatapannya tajam. Berambut keriting dan sebagian wajah hitamnya dicat hitam dari arang. Ia tetap mengenakan holim ( koteka ), bertelanjang dada, tanpa alas kaki dan kepalanya dihiasi hiasan bulu bulu burung. Ada hiasan kerang kerang yang menjuntai di dadanya. Satu satunya produk modern yang melekat di badannya hanya sebuah jam tangan stainless steel di pergelangan tangannya.
Ia berusia kira kira 55 tahun dan dianggap salah satu pimpinan suku Dani yang terkemuka.
“ Orang tua baru pulang dari Spanyol “ Dengan bahasa Indonesia yang terpatah patah, ia menceritakan baru pulang dari Spanyol dan akan pergi ke Jerman dalam waktu dekat. Selebihnya, Martin dari dinas pariwisata kabupaten Jayawijaya di Wamena menterjemahkan ucapannya.
Ia memang asset propinsi Papua yang sering dibawa bawa ke manca negara untuk promosi pariwisata Lembah Baliem.

Lembah ini merupakan bagian yang paling subur dari dataran tinggi pegunungan Jayawijaya yang membelah bumi papua. Beriklim sejuk dan dingin kalau malam, Lembah Baliem terletak di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi dan dikelilingi oleh puncak puncak yang diantaranya mencapai hingga 4.800 m.. Kabut yang melingkari bagaikan sabuk cakrawala yang mistis.
Jika cuaca cerah, dari sebuah teras resor milik seorang kebangsaan Jerman, kita dapat menatap puncak Cartenz Piramid yang legendaris itu.

Lelaki Dani ini, mengerti benar untuk mendayagunakan potensi yang melekat di sukunya. Suku Dani adalah salah satu dari tiga suku besar yang menghuni Lembah ini, selain Suku Lani dan Yali.
Dani dan Lani yang berbagi tanah di dataran rendah – saling berkaitan erat – berbicara dalam dialek yang berbeda dari rumpun bahasa yang sama tapi memahami.
Sementara Suku Yali berbicara bahasa yang sama sekali berbeda, dan tinggal di dataran yang lebih tinggi. Mereka lebih primitif, tertutup dan bisa dicapai setelah menempuh perjalanan 5 hari berjalan kaki – trekking – menembus hutan dan lembah.

Dusun Jiwika terketak hanya 20 kilometer timur laut Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Jalan aspal sudah menghubungkan dan dapat dilalui kendaraan untuk transportasi para turis.
Pak Yali Mabel, yang buta huruf itu sering datang ke kota menemui tamu tamu di Bandara udara atau mengetor uang ke tabungannya di Bank Mandiri. Ia tetap mengenakan koteka. Walau kadang susah membedakan uang seratus juta dan sepuluh juta. Ia mendapat pemasukan dari atraksi budaya Dani dari wisatawan yang datang. Untuk upacara batu bakar ia bisa mematok harga antara 5 juta sampai 20 juta. Tergantung besar babi yang akan dihidangkan untuk pesta.

Aspek komersial ini membuat sebagian kehidupan masyarakat suku Dani berubah. Anak anak kecil dan wanita terbiasa mengantar tamu ke dalam pemukiman dengan meminta upah. Mata penduduk perkampungan terbiasa dan hapal dengan arah kamera. Begitu ada kamera yang menjepretnya. Serta merta mereka menghampiri dan meminta uang.
Saya yang sudah mendapat informasi ini sudah menyiapkan gembolan uang kertas lima ribuan dari Jakarta.

Ada kesan memang Dinas Pariwisata memanjakan kepala Suku Dani, yang banyak memiliki istri ini. Bupati memberikan sebuah mobil Mitsubishi Strada yang tak pernah dipakainya. Tak heran mind set sebagian suku Dani menjadi manusia primitif yang terserabut dari budayanya. Mereka tetap memakai koteka hanya untuk mempertahankan pemasukan uang saja. Bukan sebuah pilihan hidup yang yang turun dari generasi ke generasi.

Marius, anak sang kepala Suku memilih memakai baju dan celana, ketika hendak memasuki kota Wamena. Naik angkutan umum dengan ongkos Rp 10,000,- . Sementara masih banyak generasi tua yang berjalan kaki menempuh jarak puluhan kilometer ke kota dengan tetap memakai koteka.

Sambil terus berunding dengan produser saya. Kepala Suku ini sesekali berbicara dengan beberapa laki laki anggota masyarakat ini. Untuk menyepakati jumlah harga yang harus kami bayarkan selama beberapa hari syuting di dusunnya.
Sesekali ia melirik pada bungkusan rokok yang saya bawa. Ia ingin mencoba Marlboro. Sebagai bagian dari strategi negosiasi, saya berikan rokok dan kepada masyarakatnya. Termasuk permen tenggorokan “ Fisherman’s Friends “.

Kepala Suku mengejab ngejab karena rasa aneh di mulutnya. Pemain figuran layar lebar “ Denias “ ini ternyata menyukai dan meminta seluruh isi bungkus permen itu. Tak lupa ia meminta obat flu untuk warganya yang sakit. Satu trip ‘ Panadol ‘ dengan cepat berpindah tangan.
Kemana obatan obatan yang disediakan alam untuk mereka ?

Jaman memang sudah berubah. Kehidupan yang berusia ribuan tahun itu kini hanya menjadi bagian dari atraksi budaya. Bersinggungan erat dengan dunia konsumerisme. Walau sangat dihargai bagaimana Pak Yali Mabel dengan keras mempertahankan budaya ini. Bagi orang papua dari kampung lain yang memasuki area perkampungannya tidak boleh memakai pakaian.

Ketika kami sedang melakukan syuting simulasi perang perangan suku. Saya melihat Pak Yali Mabel berlari ke sebuah arah sambil menembakan anak panahnya. Panah itu meleset, dan tampak seorang – berpakain – dari kampung lain yang pontang panting ketakutan dipanah.

Seperti kebanyakan masyarakat pegunungan Jayawijaya ini, umumnya warga bertani secara tradisional. Mereka menanam sayur dan umbi umbian sebagai bahan makanan, serta meminum air langsung dari sungai. Saya melihat ada sebuah tanki penampungan air bersih di pojok kampung. Karena perannya yang sangat penting, sungai tidak menjadi pembuangan sampah. Ada larangan membuang hajat dan kencing di sungai.
Kadang mereka masuk ke hutan selama berhari hari untuk berburu Kus Kus atau burung burung.
Mereka juga memelihara kambing atau babi. Namun babi tetap merupakan simbol kekayaan. Kehormatan seseorang – yang digunakan kelak dalam melamar calon istri – dilihat dari jumlah babi yang dimiliki.

Tak ada yang bisa mencegah arus modernisasi, Jauh berpuluh tahun sebelumnya Gubernur Frans Kaisiepo, yang pertama mensosialisasikan kampanye pakaian yang ‘ sehat ‘ dan ‘ sopan ‘. Agak aneh melupakan budayanya sendiri. Sementara jaman orde baru puluhan ton pakaian di drop dari udara di pegunungan Jayawijaya.
Karena kebodohan dan kemiskinan, pakaian ini dipakai terus dan tidak pernah dicuci hingga akhirnya robek robek.

Di Kota Wamena, yang tak terlalu jauh dari pemukiman Suku Dani, menggeliat tumbuh menerima arus modernisasi. Warnet, café, karaoke dan hotel hotel terus bermunculan.
Lama kelamaan masyarakat pengguna koteka menjadi terasing diwilayahnya sendiri. Wanita wanita Dani menjual rok rumput tradisionalnya untuk membeli barang barang konsumsi, seperti makanan dalam bungkus plastik.
Gambaran ini sama sekali berbeda ketika sebuah Dakota DC 3 milik sekutu jatuh di salah satu pegunungan, Lembah Baliem tahun 1945. Hanya tiga orang awak yang selamat dan menjadi saksi peradaban yang terasing dan dunia yang indah. Sehingga mereka menjuluki Shangri-la, padanan dari sebuah tempat atap dunia di daerah Tibet dan Nepal.
Lembah Baliem tetap seperti Shangri-la dengan gunung gunungnya yang menjulang dan lembah lembahnya yang menawan. Butuh sebuah transisi yang ideal dari masyarakat yang terbelakang menuju dunia modern.

Hari itu, kami akan terbang ke Jayapura setelah hampir seminggu di Wamena. Lapangan terbang masih sepi karena pesawat belum datang. Dari jauh saya melihat Pak Yali tergopoh gopoh memasuki ruang tunggu, dengan ditemani anaknya.
“ Kurang 4 juta bapa “ katanya mendesak. Ia meminta uang tambahan dari jumlah yang telah disepakati. Bisik bisik rupanya dia dipengaruhi dinas pariwisata setempat untuk meminta tambahan.
Rupanya pariwisata, birokrasi dan konsumerisme masih seiring sejalan.


Sumber : http://blog.imanbrotoseno.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More