Pages

Senin, 20 Februari 2012

RENCONG SENJATA TRADISIONAL DARI ACEH

Rencong (Reuncong) merupakan senjata tradisional dari daerah Aceh, Indonesia, bentuknya seperti huruf L, tetapi bila dilihat lebih dekat, seperti kaligrafi tulisan Bismillah. Rencong termasuk dalam kategori senjata dagger/belati (bukan pisau ataupun pedang).


















Asal usul

Sebelum rencong dikenal, masyarakat Aceh telah menggunakan senjata yang disebut siwah. Jenis senjata ini tidak memiliki gagang, sehingga cukup menyulitkan ketika digunakan untuk berperang, terutama ketika senjata ini sudah berlumuran dengan darah. Senjata ini menjadi licin dan mudah terlepas dari genggaman karena lumuran darah tersebut. Oleh karena itu, atas perintah Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Kahhar yang berkuasa pada waktu itu, maka dipanggil para pandai besi untuk mengubah siwah dengan model terbaru yang tidak menyulitkan ketika digunakan untuk berperang. Para pandai besi ini akhirnya menambahkan gagang yang berbentuk huruf Ba (huruf kedua dalam aksara Arab) pada siwah tersebut. Selanjutnya senjata ini dikenal dengan nama reuncong atau rincong, di dalam bahasa Indonesia disebut rencong.

Senjata rencong yang sudah ada sejak akhir abad ke-19 ini merupakan salah satu senjata yang digunakan untuk berperang melawan penjajah Belanda, khususnya pada perang Aceh yang berlangsung antara tahun 1873-1904 M. Secara simbolik, senjata ini cukup berjasa sebagai senjata pusaka yang membangkitkan semangat juang para perajurit Aceh. Hampir semua perajurit dan pimpinan gerilya Aceh menyelipkannya di pinggang selama mereka berjuang memepertahankan tanah kelahiran mereka, termasuk para wanita, seperti Tjut Nyak Dien dan pahlawan wanita lainnya.

Jenis-jenis
Ada beberapa jenis rencong di daerah Aceh ini, di antaranya: (1) reuncong meucugek, yaitu rencong yang gagangnya memiliki penahan dan perekat yang di dalam bahasa lokal dikenal dengan cugek atau meucugek; (2) reuncong meupucok, yang di atas gagangnya dibuat pucuk yang terbuat dari ukiran logam, umumnya dari emas. Pada bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif tumpal (pucuk rebung), di tampuk gagang diberi permata, sementara sarungnya dibuat dari gading yang diberi ikatan emas; (3) reuncong pudoi, yaitu rencong yang gagangnya hanya berbentuk lurus dan pendek sekali, sehingga dikenal pula dengan rencong yang belum sempurna. Ini diindikasikan pada nama pudoi, yang berarti kekurangan atau belum sempurna; dan (4) reuncong meukure, yaitu sejenis rencong yang matanya diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan (kelabang), bunga dan lain-lain.

Rencong pada umumnya dibagi menjadi empat bagian: mata rencong (bilah), punting rencong, ulee rencong (hulu, gagang atau pegangan) dan sarung rencong (warangka). Bentuk bilah rencong agak melengkung dengan bagian ujung yang runcing, tetapi tidak seperti keris. Oleh karena itu, sebagai senjata fisik, ia lebih kuat dan tampak kokoh bila dipegang. Seluruh sisi depannya tajam, sedangkan sisi punggungnya yang tajam hanya kira-kira tiga perempat bagian yang dekat dengan pucuknya. Sisi depan dekat hulu pada pangkal bilah terdapat bentuk ukiran seperti kembang kacang terbalik. Bagian ini disebut bengkuang rencong, dan merupakan stilisasi dari kuku burung garuda, atau rajawali.

Sarung rencong dan hulunya dapat dibuat dari kayu biasa, gading atau tanduk kerbau. Untuk memperkuat sekaligus memperindah, sarung ini diikatkan dengan beberapa kepingan logam berbentuk cincin yang disebut klah. Klah ini terbuat dari kuningan, perak, atau emas. Sedangkan ulee rencong dapat dihias dengan perak atau emas yang berukir.
Pada awalnya fungsi rencong hanya sebagai salah satu senjata untuk membela diri dan melawan musuh-musuh seperti penjajah Belanda. Selain itu, juga digunakan sebagai kelengkapan pakaian adat setempat. Cara mengenakannya adalah dengan menyelipkan di balik lipatan kain sarung pada perut si pemakai. Hulu rencong menghadap ke arah tangan kanan, sedangkan badannya diselipkan pada kedudukan miring, condong ke kanan pula. Secara simbolis, hal ini agaknya untuk memudahkan si pemakai mencabut rencong tersebut jika ada keperluan tertentu. Namun, fungsi rencong saat ini sudah bertambah. Ia juga dijadikan sebagai cendramata untuk diberikan kepada tamu-tamu seperti pejabat pemerintahan atau orang-orang yang datang berkunjung ke negeri Serambi Mekah ini.

Cara Membuat Rencong
Rencong dibuat dengan menggunakan peralatan tradisional seperti pembakaran besi hingga merah seperti bara api. Untuk membuat mata rencong, terlebih dahulu bahan bakunya dibakar hingga merah, lalu dipukul hingga terbentuk seperti sebilah pisau yang berujung lancip. Sedangkan untuk membuat gagang rencong adalah dengan cara mengebor bahan bakunya, kemudian mengukir sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, ada pula cara pembuatan gagang ini dengan menggunakan gerinda dan pisau. Untuk meluruskan tanduk kerbau yang masih bengkok digunakan kayu sebagai penjepitnya. Selanjutnya, gagang ini dihaluskan dengan gosokan amplas atau daun serumpit serta abu dapur. Setelah bilah dan gagang diolah, maka dilanjutkan dengan memasukkan bilah ke lubang yang ada di bagian ujung gagang, kemudian disarungkan dengan klah dan diikat dengan kawat tembaga, hingga bilah rencong tersebut benar-benar kuat di gagangnya.

Nilai simbolis
Berkaitan dengan nilai simbolis, senjata khas masyarakat Aceh ini memiliki keunikan dan mengandung nilai filosofis berkenaan dengan agama Islam. Hal ini terlihat pada model pembuatannya, khususnya pada gagangnya yang berbentuk huruh Ba, sebagai singkatan dari kata bismillah dalam bahasa Arab. Kata tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat berpegang teguh pada ajaran Islam. Selain itu, kata rencong sudah menjadi bahasa simbol bagi daerah yang berada di paling barat Indonesia ini. Ketika Aceh disebut, biasanya selalu diiringi dengan frase Tanah Rencong. Selain itu, ada pula frase Serambi Mekah, yang menegaskan bahwa masyarakat daerah Aceh ini sangat kental dalam mengamalkan ajaran agama Islam.


Sumber : http://magistre-sejarah.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More