Pages

Rabu, 23 Februari 2011

PARIWISATA DI SUMATERA

 PARIWISATA  DIPROPINSI JAMBI
Jambi, terletak di bagian tengah pulau Sumatera. Jambi yang merupakan ibukota Provinsi Jambi, menyimpan banyak potensi wisata. Jika Anda sedang berada di Jambi, tidak ada salahnya untuk sekadar mampir menikmati wisata jambi

DANAU KERINCI




Masyarakat di kabupaten KERINCI Jambi, pantas untuk berbangga. Pasalnya, mereka dianugerahi alam yang elok permai. Ada Gunung dan Danau Kerinci, Tanjung Pelita, Pesanggarahan dan Tanjung Hatta, Taman Husein, Pantai Indah, Danau Belibis, dan Danau Gunung Tujuh.
Untuk nama yang terakhir (Danau Gunung Tujuh), selain keasrian alamnya, danau ini juga merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara. Terbentuk akibat aktivitas gunung berapi di masa lampau (danau kaldera), Danau Gunung Tujuh berada di ketinggian 1.996 m dpl. Tak mengherankan jika suhu rata-ratanya mencapai 17 derajat celcius dan kabut suka “mampir” di kawasan seluas 960 hektar ini.
Asal nama Gunung Tujuh diambil dari adanya tujuh gunung yang “memagari” kawasan sekitar danau. Yaitu dimulai dari yang terrendah, Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Lumut (2.350 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), dan yang paling tinggi Gunung Tujuh (2.735 m).

Misteri di Balik Keindahan Danau

Bagi mereka yang hobi camping, Danau Gunung Tujuh memiliki beberapa kawasan berpantai. Di sini, Anda dapat menikmati matahari pagi menampakkan wajahnya sembari menghirup segelas kopi hangat. Dijamin, keindahan pemandangan danau pada momen tersebut akan menjadi pengalaman yang sukar dilupakan.
Danau Gunung Tujuh pun memiliki panorama lain yang tak kalah memikat. Ada Air Terjun Gunung Tujuh berketinggian puluhan meter dan berjarak tak jauh dari danau. Jika Anda ingin melihat dan menikmati kesegaran airnya, dapat melalui jalur setapak tak jauh dari bekas wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung.
Selain itu, pesona keasrian Danau Gunung Tujuh semakin diperkuat oleh aktivitas warga setempat. Setiap pagi dan sore, diselubungi kabut menutupi danau, warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan sering terlihat menyusuri danau menggunakan perahu. Memberikan pemandangan khas pedesaan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Keindahan danau dengan pesonanya itu semakin lengkap dengan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar danau. Diceritakan bahwa Danau Gunung Tujuh merupakan danau keramat, atau sekti (sakti) menurut istilah masyarakat setempat. Diyakini ada dua makhluk halus menyerupai manusia bernama “Lbei Sakti” dan “Saleh Sri Menanti” yang menjaga kawasan tersebut. Kedua makhlus ini mempunyai pengikut setia yang menyerupai harimau. Hewan yang seringkali jadi maskot kegaiban masyarakat Melayu di sepanjang Pulau Sumatera.
Banyak kejadian tak masuk akal sering terjadi di sini. Seperti perubahan cuaca yang tiba-tiba, pusaran air yang tak jelas penyebabnya hingga air danau selalu terlihat bersih tanpa satu pun daun-daun dari pepohonan sekitar danau. Hingga sekarang, kejadian aneh berselubung mitos tersebut terus hidup dan menjadi misteri yang memayungi keelokan Danau Gunung Tujuh.

Lokasi Menuju Danau

Danau Gunung Tujuh terletak di Desa Pelompek, Kecamatan Kayu Aro berjarak sekitar 56 km dari Sungai Penuh. Untuk menuju ke sana, Anda memang harus sedikit berletih-letih mendaki dan melewati jalan setapak selama 2-3 jam. Tapi, itu tidak menjadi masalah. Selain keindahan danau yang sukar dicari tandingan, selama perjalanan Anda juga disuguhi panorama alam luar biasa indahnya.
Hal ini dikarenakan Danau Gunung Tujuh termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan menjadi salah satu surga keanekaragaman hayati di Indonesia. Beragam jenis flora dan fauna khas seperti harimau sumatera (panthers tigru surnatrensis), beruang madu, siamang, tapir, babi hutan, bermacam burung, berbagai jenis kupu-kupu dan anggrek alam serta bunga kantong semar, ada di sini.
Salah satu alternatif pendakian adalah melalui gerbang Pos TNKS di Desa Pelompek, Kabupaten Kerinci. Ini adalah rute favorit. Hanya saja, Anda harus siap dengan jaket atau baju tebal. Dengan ketinggian 1.600 meter dpl, desa ini memiliki udara dingin dan angin kencang. Apalagi di malam hari, suhu udara dapat menjadi sangat dingin.
Tetapi jangan khawatir, selain bisa memanfaatkan rumah penduduk di sekitar pos, Anda dapat menginap di homestay yang ada di sana. Bisa juga menyewa homestay di Desa Kersik Tuo, beberapa kilometer dari Desa Pelompek (lokasi danau). Untuk urusan makan dan minum, Anda pun bisa menikmati aneka masakan khas Kerinci, yaitu beras payo, gulai ikan semah, dendeng bateko, kacang tojin, lemang, atau minum kopi kerinci dan teh kayu aro yang tersohor itu.
Tertarik untuk melancong ke Danau Gunung Tujuh? Segeralah, jangan tunda lagi.

TAMAN NASIONAL BUKIT DUA BELAS

Salah satu komunitas masyarakat tradisional yang tinggal di kawasan TNBT adalah orang Kubu atau "Orang Rimba". Mereka masih hidup nomaden atau berpindah-pindah di belantara hutan Bukit Tigapuluh. Sebagian besar mereka menempati kawasan TNBT di wilayah Propinsi Jambi yang mempunyai kelerengan cenderung lebih datar.
Suku Kubu yang ada di TNBT berasal dari kelompok besar di TN. Bukit Dua Belas. Karena hutan di sekitar Bukit Duabelas telah terfragmentasi akhirnya kelompok suku ini mencari sumber daya hutan hingga ke kawasan TNBT. Selain itu kepindahan suku Kubu dari Bukit Duabelas ke wilayah ini juga akibat melanggar adat atau istilah mereka "keno campok adat" sehingga diharuskan pergi dari wilayah Bukit Duabelas. Orang Rimba/Kubu pada umumnya berada di sebelah selatan Bukit Tigapuluh. Ada juga kelompok yang bermigrasi ke wilayah bagian utara dan barat Bukit Tigapuluh di wilayah propinsi Riau.
Pandangan rimba sebagai tempat hidup mereka melekat kuat pada perilaku keseharian, seperti kebiasaan berburu, meramu makanan, mengumpulkan hasil hutan dan berladang. Kegiatan berburu merupakan pola ekonomi subsistensi yang berimplikasi pada hubungan sosial, hal ini terlihat dari kebiasaan pendistribusian daging hasil berburu yang dikelola oleh pihak perempuan di mana hasil buruan akan didistribusikan kepada seluruh anggota kelompoknya. Kegiatan meramu hasil hutan menjadi perekonomian subsistensi mereka.
Cara hidup berburu dan meramu dan di samping kegiatan berladang menunjukkan bahwa masyarakat ini sangat bergantung sekali dengan lingkungan hutan, sebagai tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka
Selain itu Orang Rimba juga menganggap hutan merupakan tempat hidup yang paling aman, karena dengan hidup di dalam hutan mereka dapat melakukan berbagai kegiatan keseharian mereka tanpa terganggu oleh pengaruh dari luar. Upaya ini sejalan dengan usaha mereka mempertahankan pola kebiasaan yang membedakan mereka dengan kelompok masyarakat lainnya.


Rasa aman dalam hutan, menjadi faktor pendorong bagi Orang Rimba untuk tetap memilih kehidupan dalam hutan, rasa aman ini terutama dimaksudkan sebagai perumpamaan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak mereka.
Perempuan mempunyai peran penting dalam kehidupan Orang Rimba sebagai pemilik dan pendistribusi sumber daya dalam keluarga. Peran perempuan sebagai pemilik dan pendistribusi sumber daya tersebut merupakan alasan laki-laki untuk selalu melindungi perempuan dengan memberikan rasa aman bagi perempuan terutama dari gangguan yang mungkin timbul dari kehadiran pihak luar, sehingga timbul kesan bahwa perempuan Orang Rimba tidak mempunyai peran yang dominan dalam kehidupan sosial mereka.
Interaksi dengan pihak luar yang umumnya dilakukan oleh laki-laki Orang Rimba, berkaitan dengan aktivitas ekonomi mereka. Di mana laki-laki berkewajiban mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar dengan perantara toke. Peran toke di sini menghubungkan Orang Rimba dengan aktivitas ekonomi pasar. Dalam aktivitas ekonomi pasar, baik toke maupun Orang Rimba berada dalam pola saling ketergantungan yang lebih menguntungkan toke.

Toke berperan sebagai pihak yang membiayai kegiatan pencarian hasil hutan. Biaya yang dikeluarkan toke selama pencarian harus dibayar dalam bentuk hasil hutan oleh Orang Rimba, namun dengan situasi hutan sekarang di mana kesediaan hasil hutan sudah berkurang maka Orang Rimba terjerat hutang kepada toke.
Orang Rimba/Kubu di Bukit Tigapuluh berbeda secara signifikan dengan Talang Mamak dan Melayu. Suku ini juga hidup dari mengumpulkan hasil hutan dan menjualnya ke luar, dan sebagian melakukan perladangan berpindah. Mereka ini mempunyai areal untuk berpindah-pindah yang cenderung mereka lindungi untuk mencari sumberdaya liar sebagai pemburu pengumpul. Ketika membuka hutan untuk perladangan berpindah, mereka cenderung melindungi daerah ini sebagai camp untuk persediaan makanan daripada membuka lahan baru.

Budaya

Ada beberapa budaya yang sangat menarik seperti:
tradisi mencari hasil hutan : jernang, rotan, damar, dan lain-lain.
tradisi berburu : untuk memenuhi protein orang kubu berburu bai, nangui, kancil, rusa dan ular.
Kegiatan ini sangat menarik jika bisa dijadikan objek dalam kegiatan ekoturisme di TNBT. Namun yang paling sulit adalah menemukan posisi/tempat kelompok Orang Rimba.
Sesudungon yaitu tempat berteduh/rumah sederhana berukuran 2x2 dan beratap daun atau plastik. Sesudongan ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan nomaden dan beberapa budaya seperti "melangun".
Melangun adalah tradisi berpindah lokasi tinggal jika ada keluarga yang meninggal. Mereka akan meratap dan meninggalkan semua harta benda tidak bergerak untuk beberapa waktu, bisa 2 hingga lima tahun.
Orang Rimba juga memiliki konsep dan pembedaan diri dengan orang di luar mereka. Mereka menyebut dirinya sebagai Orang Rimba yang memiliki makna orang di dalam hutan dan tidak mau bercampur dengan orang Melayu atau di luar orang Rimba. Hal ini karena adanya anggapan bahwa orang Melayu/orang di luar Rimba akan membawa penyakit bagi mereka. Sehingga Orang Rimba sampai saat ini tidak mau hidup bercampur dengan orang di luar rimba. Namun interaksi dengan orang Melayu telah berlangsung lama terutama untuk menukarkan hasil-hasil dari hutan dengan kebutuhan dari luar mereka seperti gula, tembakau dan beras. Orang Rimba juga memantangkan makanan yang berasal dari luar karena makanan dari luar dianggap mendatangkan penyakit, hal ini juga sesuai dengan sistem kesehatan yang berlaku bagi Orang Rimba.
Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap kebudayaan akan berdinamika, saat ini ada beberapa kelompok Orang Rimba di TNBT yang sudah menetap layaknya orang Melayu dan Talang Mamak yaitu kelompok Becukai, mengadaptasikan sebahagian adat dengan suku Talang Mamak yang lebih dahulu hidup di Dusun Semerantihan.


Candi Muaro Jambi





Keberadaan situs purbakala Muaro Jambi diketahui pertama kali oleh seorang perwira tentara Inggris, Letnan SC Crooke, tahun 1820, ketika ditugaskan mengunjungi daerah pedalaman Batanghari untuk pemetaan Sungai Batanghari. Situs Candi Muara Jambi diperkirakan dibangun pada zaman Kerajaan Sriwijaya dengan luas 12 kilometer persegi.

Di lokasi situs Candi Muaro Jambi terdapat banyak candi, diantara sekian banyak candi ada beberapa candi yang telah direnovasi oleh pemerintah daerah Provinsi Jambi. Diantaranya adalah: Candi Tinggi pada tahun 1978 dan selesai 1987; Candi Gumpung pada tahun 1982 dan selesai tahun 1988; Candi Astano pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1989; serta Candi Kembar Batu yang dilakukan pada tahun 1991 dan baru selesai pada tahun 1995.

Keistimewaan

Di lokasi situs Candi Muaro Jambi terdapat sembilan candi besar. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kuto Mahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astomo. Selain candi besar, juga terdapat beberapa candi kecil yang bertebaran di sepanjang lokasi tersebut.
Sementara itu, di dalam komplek candi terdapat museum. Di dalam museum tersimpan beberapa peninggalan yang tersimpan secara baik. Dapat dijumpai Arca Dwarapala (arca penjaga bangunan suci dari abad ke-13, yang ditemukan April 2002 di Candi Gedong II), belanga dari perunggu (ditemukan di Candi Kedaton tahun 1994), padmasana (tempat duduk arca), tiga patung gajah dari batu, puluhan batu bata kuno, rata-rata berukuran 18x32 cm dengan tebal 6 sentimeter. Tidak hanya itu, koleksi berupa tembikar, artefak perunggu, belanga logam dengan berat 160 kg serta tinggi 0,67 meter dengan lingkar bibir berdiameter 1,06 meter, pecahan keramik dan porselen kuno dari abad ke-9 hingga ke-11 masehi, juga terdapat di museum ini.


Wisata Sejarah di Masjid Agung Pondok Tinggi


Anda pernah ke Kerinci? Nah, jika anda sedang berada di kabupatan yeng berhawa sejuk itu, jangan hanya sekedar mampir di wisata alamnya. Tapi, cobalah singgah ke Masjid Agung Pondok Tinggi di Dusun Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kota otonom Sungaipenuh.
Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Kabupaten Kerinci. Ia merupakan saksi nyata penyebaran Islam pada tahun 1874 M di Kabupaten Kerinci.
Bukan sekedar mendapatkan wawasan, tapi anda juga bisa menikmati arsitekturnya yang khas. Keindahan yang pertama nampak dari Masjid Agung ini adalah desain atapnya yaitu desain tumpang berlapis tiga. Makin ke atas makin kecil dan lapisan atap paling atas berbentuk piramida.
Selain itu dinding dan tiang-tiang masjid semua berbahan dari kayu. Berbagai macam motif ukiran pada dinding dan tiang masjid menghiasi mesjid sehingga tampak indah.
Desain arsitektur masjid ini merupakan refleksi dari sebagian pandangan hidup masyarakat berkaitan dengan adat istiadat dan ketuhanan. Masjid setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap ini ditopang oleh 36 buah tiang yang besar dan kokoh.
Tiang itu dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu Tiang panjang sambilea (sembilan), berjumlah empat buah, membentuk segi empat pada ruang masjid yang paling dalam. Keempat tiang yang berasal dari batang pohon yang utuh dan kuat tersebut dinamai tiang tuo. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan. Kemudian Tiang panjang limau, berjumlah delapan buah, membentuk segi empat pada ruang tengah, lalu 24 buah Tiang panjang duea, yang membentuk segi empat pada bagian ruang yang paling luar.
Selain itu, masih ada beberapa tiang yang dirancang menggantung, tidak menancap (tertajak) ke tanah. Desain menggantung ini dimaksudkan agar tiang tersebut memiliki daya lenting dan elastis, sehingga tahan terhadap gempa bumi yang memang sering terjadi di Kabupaten Kerinci. Tiang-tiang tersebut juga dihiasi dengan ukiran bermotif flora.
Nah, jadi ketika anda berada di Kerinci jangan melulu menikmati wisata alam seperti Gunung, air terjun, perkebunan teh. Bagi anda yang muslim, tak ada salahnya singgah ke masjid Agung pondok Tinggi.
Arsitektur Kaya Makna

Arsitektur Masjid Agung Pondok tak sekedar tat bangunan tanpa makna. Tapi lebih dari itu. Sebut saja susunan atap berlapis tiga, misalnya. Menurut masyarakat setempat, atap tiga lapis ini merupakan lambang dari tatanan hidup masyarakat Kerinci, yakni bapucak satau (berpucuk satu), barempe juroi (berjurai empat) dan batingkat tigae (bertingkat tiga).
Makna filosofis dari ungkapan di atas adalah berpucuk satu berarti menghormati satu kepala adat dan menjunjung tinggi kepercayaan pada Yang Kuasa, kemudian berjurai empat artinya di Dusun Pondok Tinggi terdapat empat jurai. Di setiap jurai terdapat seorang ninik mamak atau pemangku adat dan seorang imam. Jadi, terdapat empat orang pemangku adat dan empat orang imam, Lalu bertingkat tiga artinya masyarakat Pondok Tinggi tidak pernah melepaskan seko nan tigo takakpusaka tengganai, pusaka ninik mamak dan pusaka depati. (pusaka tiga tingkat) yang terdiri dari
Konon Masjid Agung Pondok Tinggi ini dibangun secara bergotong-royong oleh warga Dusun Pondok Tinggi, Kerinci pada tahun 1874 M. Menurut masyarakat setempat, awal pembangunan dimulai pada hari Rabu 1 Juni 1874 dan selesai pada tahun 1902.
Sebagian besar warga baik laki-laki dan perempuan bergotong-royong mengumpulkan kayu untuk pembangunan masjid.
Mesjid Agung ini merupakan bukti kecerdasan masyarakat lokal dalam mendirikan sebuah bangunan. Proses pembangunan masjid ini juga menunjukkan kultur komunal yang masih kuat berakar pada masyarakat Kerinci saat itu.


Museum Negeri Jambi


MUSEUM ini dibangun tahun 1981 di atas tanah seluas 13.350 meter persegi, dengan luas bangunan 4.000 meter persegi. Bangunannyaselesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 6 Juni 1988 dengan gaya arsitektur Kajang Loko, yang menjadi ciri khas arsitektur rumah adat masyarakat Jambi. Museum ini menyimpan beraneka ragam benda peninggalan sejarah dan budaya Jambi. Koleksi yang terdapat dalam Museum dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, seperti: biologika, geologika, arkeologika, etnografika, numismatika, heraldika, dan keramalogika.
Keistimewaan koleksinya berjumlah sekitar 2.855 buah.
Dari sekian banyak koleksi tersebut, terdapat 5 koleksi utama yang menjadi icon museum, Seperti 2 buah Arca Avolokiteswara yang terbuat dari emas yang ditemukan di situs Rantau Kapas Tuo pada tahun 1991, Medali emas bersegi tujuh yang bertahun 1298 Hijriyah merupakan hadiah dari Kerajaan Turki Ustmani kepada Sulthan Thaha Saifuddin selaku Raja Jambi, Ssabuk Emas dan Kalung Emas.
Selain lima koleksi utama, terdapat 100 buah keramik kuno Cina yang ditemukan oleh para penyelam di perairan yang terletak di perbatasan antara Jambi dan Riau. di samping itu, juga terdapat koleksi benda-benda bersejarah lainnya, seperti: mesin cetak uang kuno, perahu lajur kuno, alat tukar kuno untuk produk karet, koleksi flora fauna dan busana adat tradisional Jambi. Dengan koleksi benda-benda bersejarah tersebut, Museum Negeri Jambi menjadi salah satu museum yang menarik untuk dikunjungi.

Taman Nasional Kerinci Seblat 

Terletak di 4 wilayah provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.




Taman Nasional Kerinci, Seblat. Jambi. Foto: jambiprov.go.id
Taman Nasional Kerinci Seblat secara resmi diumumkan pada tanggal 4 Oktober 1982, bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan penyatuan kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa huku Lakitan-Bukit Kayu Embun dan Gedang Seblat. Serta hutan-hutan lindung di sekitarnya.
Taman Nasional Kerinci Seblat termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari, DAS Musi, dan DAS wilayah pesisir bagian barat. Taman nasional ini juga merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah hingga ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem khas, seperti rawa gambut, rawa air tawar, dan danaunya  yang indah untuk di kunjungi




SELAMAT BERPARIWISATA.................

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More