Pages

Senin, 28 Februari 2011

PARIWISATA DI IBU KOTA JAKARTA

PARIWISATA DI IBU KOTA JAKARTA

 
Sejarah Kota Jakarta
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

* Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.

* 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).

* 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.

* 1 April 1905 berubah nama menjadi ’Gemeente Batavia’.

* 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

* 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.

* September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

* 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

* 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj’a Jakarta.

* 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.

* Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

* 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

* Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)

* Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700)

sumber: jakarta.go.id

DKI Akan Bangun Pusat Kesenian Betawi
Sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya dan kesenian Betawi, Pemprov DKI Jakarta berencana membangun Pusat Kesenian Betawi. Nantinya, Pusat Kesenian Betawi itu akan didirikan dengan memanfaatkan gedung bekas kantor Kodim 0505 di Jalan Raya Bekasi, Jatinegara , Jakarta Timur. Diharapkan, para seniman Betawi dapat melakukan berbagai pementasan seni dan budaya di gedung tersebut.

"Kita akan membangun atau merenovasi gedung bekas kodim 0505 di Jalan Raya Bekasi untuk dijadikan sebuah gedung kesenian betawi," kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, usai menerima Ketua Bamus Betawi, Nachrowi Ramli di Balaikota, Rabu (11/8).

Dijelaskan Fauzi Bowo, renovasi bekas kantor Kodim 0505 oleh Pemprov DKI Jakarta merupakan saran dari Bamus Betawi. Tahun ini pemugaran sudah mulai dikerjakan dan diharapkan tahun depan pengerjaan pembangunanya akan dituntaskan. Gedung itu akan menjadi pusat kesenian betawi, dan berada di bawah Bamus Betawi. Selain itu, lembaga kebudayaan betawi juga akan ada didalamnya. "Pembangunan ini dilakukan multiyears, saya minta tahun 2012 sudah tuntas pembangunannya," kata Fauzi Bowo.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Arie Budhiman menuturkan, gedung eks Kodim 0505 adalah milik Pemprov DKI. Renovasi akan dilakukan oleh Dinas Parisiwata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Saat ini, renovasi dalam tahap proses dengan biaya pemugaran sebesar Rp 4 miliar. Proses pemugaran akan dilakukan secara hati-hati. Sebab, bangunan bekas kantor Kodim tersebut masuk sebagai bangunan cagar budaya. "Bangunan ini masuk cagar budaya, maka renovasi dilakukan dengan hati-hati tanpa merusak struktur bangunan secra keseluruhan," tandasnya.

Ketua Bamus Betawi, Nachrowi Ramli menyambut baik langkah Pemprov DKI yang memprogramkan pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Dia berharap kebijakan ini berlanjut untuk melestarikan budaya Betawi. "Kita menyambut baik upaya yang dilakukan pemprov," ucapnya.

DKI Tegaskan Taman Ria Tetap Jadi RTH
Upaya memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan mengimplementasikan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mewajibkan 20 persen ketersediaan lahan RTH dari luas wilayah terus dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Hal itu dibuktikan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang merefungsi sebanyak 27 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalur hijau menjadi RTH. Begitupun dengan polemik rencana pembangunan eks Taman Ria Senayan (TRS), Pemprov DKI kembali mempertegas komitmennya menjadikan lahan seluas 11 hektar itu menjadi RTH.

“Tata ruang adalah isu pokok. Melalui tata ruang dapat dilaksanakan amanah dalam menciptakan kualitas kota yang baik. Oleh karena itu, kami terus berkomitmen memperluas RTH,” ujar Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, dalam peringatan Hari Tata Ruang Indonesia 2010, di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, Minggu (1/8).

Diungkapkan Fauzi Bowo, untuk menciptakan satu persen RTH di Kota Jakarta diakuinya sangat sulit diwujudkan lantaran dibutuhkan lahan hampir seluas empat kali Taman Monas atau seluas 352 hektar. Meski begitu, ditegaskan Bang Fauzi, sapaan akrab Fauzi Bowo, pihaknya akan terus berupaya semaksimal mungkin memperluas RTH.

“Saat ini, RTH di Jakarta baru mencapai 3,6 persen. Kita terus mengupayakan itu mulai dari tingkat kelurahan. Saat ini, target untuk RTH 2030 sebesar 13,9 persen. Bahkan, dalam waktu dekat ini, kawasan Kebonpisang, Penjagalan, Penjaringan akan dijadikan hutan kota. Selain itu, kami juga sedang mengupayakan Lapangan Borobudur depan RSCM untuk dijadikan taman kota seperti Taman Menteng,” jelas Fauzi.

Pada kesempatan itu, Fauzi Bowo juga sempat menyampaikan imbauannya kepada pengelola kawasan Ancol, untuk tidak membangun pusat perbelanjaan. “Bekas lapangan golf selayaknya disulap menjadi taman hijau ramah lingkungan seperti pembangunan Eco Park seluas 3,6 hektar,” kata Fauzi Bowo.

Selain dihadiri Gubernur DKI Jakarta, kesempatan itu juga dihadiri Menteri Pekerjaan Umum RI, Djoko Kirmanto. Sedangkan untuk puncak peringatan Hari Tata Ruang akan dilangsungkan 6-8 November mendatang bertempat di Denpasar, Bali. Rencananya, perayaan Hari Tata Ruang juga akan diselenggarakan di 33 provinsi di Indonesia.

Diungkapkan Djoko, dengan adanya tata ruang kawasan perkotaan dapat menciptakan sarana perwujudan kota yang berkelanjutan. Dengan penyelenggaraan Hari Tata Ruang, diharapkan kepada seluruh masyarakat di setiap daerah dapat tumbuh prakarsa-prakarsa mandiri. Untuk tema yang diambil, bertujuan mengedeankan partisipasi masyarakat untuk menciptakan kotanya menjadi hijau. “Dengan penataan ruang, kita dapat mengurangi atau bahkan mencegah dampak pemanasan global,” tandasnya.

"Dengan adanya penataan ruang, dapat menekan global warning," ungkap Menteri Pekerjaaan Umum. Djoko meminta kepada seluruh pemangku kepentingan, untuk mendukung penataan ruang.

Pesta Laut di Cilincing Berlangsung Meriah

Untuk memelihara tradisi sekaligus mempromosikan kekayaan laut, pesta laut atau yang biasa disebut Nadran XI digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Utara di Perkampungan Nelayan dekat Tempat Pelelengan Ikan (TPI) Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (1/8). Ribuan nelayan yang bermukim di kawasan itu terlihat antusias mengikuti satu persatu kegiatan yang dilakukan dalam tradisi tersebut.

Sayangnya, meski berlangsung meriah, tumpukan sampah yang berada di sekitar Kali Cakung Drain terlihat cukup mengganggu suasana jalannya prosesi tradisi tersebut. Tumpukan sampah yang terdiri dari sampah batangan kayu, sampah plastik, karet ban, kemasan makanan dan minuman, bangku sofa dan lain sebagainya terlihat mengenangi Muara Cilincing-Marunda yang berada di pemukiman nelayan. Begitu juga dengan aliran sungai kecil yang melintasi pemukiman warga di RT 03, 04, dan 05 RW 06, Cilincing sehingga menmbulkan kesan kumuh bagi siapa saja yang melihatnya.

Ridwan (37), salah seorang nelayan mengaku, acara Nadran hanyalah sebuah upacara tahunan yang manfaatnya tidak terlalu dirasakan warga. Pemkot Administrasi Jakarta Utara, dinilai masih kurang peduli dalam pembinaan kepada para nelayan, khususnya nelayan yang berada di sekitar Cilincing dan Marunda. “Kalau memang peduli, perhatian itu hendaknya tidak hanya diberikan saat digelarnya tradisi Nadran saja,” keluh Ridwan, Minggu (1/8).

Sudah selama 10 tahun menjadi nelayan udang, sambungnya, acara Nadran sudah berkali-kali diikutinya dan dirasakan kurang melibatkan partisipasi Pemkot Administrasi Jakarta Utara. "Selama ini nelayan mengadakan acara Nadran atas partisipasi nelayan sendiri," katanya.

Ia juga mengeluhkan soal banyaknya sampah yang semakin menumpuk di sekitar pemukiman nelayan. Akibatnya, laju perahu nelayan pun menjadi terhambat. “Sekitar tahun 1990-an sampah tidak terlalu banyak. Nelayan pun dapat mencari ikan dengan jarak hanya 500 meter dari garis pantai,” keluhnya.

Hal serupa dikatakan Andris (42) nelayan lainnya. Sampah yang mengambang di aliran muara, menurutnya merupakan sampah kiriman dari beberapa lokasi yang jaraknya tidak jauh seperti, Jembatan Cakung dan Semper. “Kali Cakung Drain memang sudah dipenuhi sampah sejak beberapa tahun silam. Semakin hari sampah-sampah itu kian bertambah seiring banyaknya populasi warga yang bermukim di areal sekitar,” jelasnya.

Menanggapi maraknya tumpukan sampah, Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono menyatakan, sampah-sampah itu merupakan kiriman dari 13 sungai yang mengaliri Kota Jakarta. "Sampah-sampah itu kiriman dari wilayah lain. Tak semua sampah dihasilkan dari warga Jakarta. Untuk itu diharapkan peran serta dan keperdulian masyarakat Jakarta, khususnya Jakarta Utara untuk tidak membuang sampah sembarangan," imbaunya.

Acara Nadran merupakan agenda rutin yang diselenggarakan Sudin Kebudayaan Jakarta Utara dan bertujuan memperkenalkan budaya pesisir ke manca negara maupun wisatawan lokal. "Dengan acara Nadran, diharapkan para nelayan lebih peduli dengan lingkungan dan melakukan bersih-bersih," tandasnya.


Batik Betawi Jadi Sasaran Pengunjung Sentra Timur Fair

Minat masyarakat terhadap batik khas Betawi nampaknya sangat tinggi. Terbukti, dalam pagelaran Sentra Timur Fair yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Timur, batik khas Betawi menjadi incaran para pengunjung. Dalam waktu tiga hari saja, omzet penjualan batik khas Betawi dalam pameran itu mencapai Rp 17 juta lebih.

Seperti dikatakan pemilik stand batik ‘Beranda Betawi’, Wahyudiono. Pria yang akrab disapa Wahyu ini menuturkan, antusias masyarakat terhadap batik warisan Betawi cukup tinggi. Itu dibuktikan dari penjualan batik hari pertama yang berhasil meraup omzet sebesar Rp 6,5 juta, lalu di hari kedua Rp 7 juta, dan hari terakhir berkisar Rp 5 juta.

Penjualan yang melebihi target ini, kata Wahyu, merupakan hasil yang fantastis, terlebih kondisi batik Betawi yang saat ini mulai langka dan dapat dibilang kalah pamor dibandingkan dengan batik daerah lain. "Keunikan batik Betawi yang memiliki motif bebas menjadi daya tarik tersendiri," ujar Wahyu kepada beritajakarta.com, yang ditemui di hari terakhir pameran Sentra Timur Fair, Jumat (11/6)

Wahyu menegaskan, perbedaan batik Betawi dengan batik khas daerah lain diyakini menjadi pendongkrak penjualan batik di standnya itu. Terlebih, mulai dari motif dan warnanya, batik khas Betawi ini cukup unik. Motif batik Betawi cukup bebas dan tidak berpakem pada satu gaya seperti halnya batik lain, begitu juga warnanya yang cerah.

Wahyu menjelaskan, seiring perjalanan waktu, batik Betawi dibedakan menjedi jenis ondel-ondel dan Jakarta. Jenis odel-ondel memiliki ciri bergambar pengantin Betawi, ondel-ondel dan gambar-gambar kesenian lainnya. Sedangkan jenis batik Jakarta lebih menggambarkan pada kehidupan masyarakat modern saat ini.

Untuk warna batik Betawi, menurutnya, lebih terang dan dan terkesan `ngejreng` dan didominasi warna-warna cerah, seperti warna merah, hijau, kuning dan oranye. Untuk harga, kata Wahyu, jenis batik Ondel-ondel lebih murah daripada jenis batik Jakarta yang berkisar Rp 400 ribu-an. Sedangkan batik Jakarta dibanderol antara Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More