Pages

Senin, 21 Februari 2011

PARIWISATA DI SUMATERA

TEMPAT WISATA  SUMATRA  UTARA 
2.MESJID RAYA AL-MAKSUM ( Mesjid Kesultanan Deli ) 



Masjid Raya ini adalah salah satu peninggalan Sultan Deli di Sumatera Utara setelah Istana Maimoon. Masjid ini masih dipergunakan oleh masyarakat muslim untuk sholat setiap hari. Sebahagian bahan - bahannya yang terbuat dari Itali dipergunakan untuk dekorasi masjid ini.
Masjid ini dikunjungi oleh Wisatawan mancanegara dari berbagai negara di seluruh Dunia. Masjid ini adalah masjid yang terindah dan terbesar di Sumatera Utara. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Makmun Al Rasyid. Masjid Raya ini hanya kira-kira 200 meter dari Istana Maimoon.
Mesjid dengan arsitektur yang istimewa diilhami oleh Morrish Style. Selain Masjid Raya Medan ada lagi masjid milik peninggalan kesultanan Deli yang dibangun pada Tahun 1886 yaitu Masjid Labuhan. Mesjid Labuhan adalah salah satu masjid dengan rancangan yang unik bergaya India dengan Kubah segi delapan. Masjid Labuhan terletak di jalan raya Medan Belawan sebelah utara dari pusat kota Medan.
Kubah pada Mesjid Al Ma'sum yang gepeng dan persegi juga pada puncak atap terdapat hiasan bulan sabit yang lazim pula kita temukan pada bangunan-bangunan Islam lainnya seperti Mesjid dan menara yang menurut para ahli sering dihubungkan sebagai lambang kedamaian, dimana Islam disiarkan tanpa kekerasan.
Selain denah, atap kubah, lengkungan-lengkungan (arcade), hiasan bulan sabit pada puncaknya, pengarauh kesenian Islam ini akan lebih nampak lagi pada Ornamentasinya, baik pada dinding, plafon, tiang-tiang, dan permukaan lengkungan (face Arcade) yang kaya dengan hiasan bunga-bunga dan tumbuh-tumbuhan yang berkelok-kelok dengan cat minyak. Hiasan floralistis ini selain digayakan (distilir) mengingatkan pada motif tumpal dan mekara, juga dilukiskan secara Naturalistis kecuali motif flora, motif geometris juga amat menonjol adalah kombinasi antara hiasan Poligonal (bersegi banyak), Oktagonal (segi delapan) dan lingkaran-lingkaran. Motif semacam ini terutama sekali terdapat pada dinding-dinding, permukaan lengkungan, plafon dan sebagainya. Disamping itu motif semacam ini terlihat pula pada bentuk trali besi tingkap-tingkap segi empat maupun yang berbentuklengkungan yang mengingatkan kita pada ukiran dinding gaya India. Di Indonesia hiasan semacam ini sering disebut hiasan Terawangan atau Kerawangan, selain sebagai hiasan, hiasan ini dapat berfungsi sebgai fentilasi atau lobang angin.


3.Bangunan Peninggalan Tjong A Fie

 


Siapakah Tjong A Fie? Dia adalah Mayor China di Medan, seorang Milioner pertama di Sumatera. Hingga kini namanya terus dikenang di Kota Medan , meski ia sudah meninggal pada tahun 1921.
Pada Tahun 1870 Tjong A Fie dan kakaknya, Tjong Yong Hian meniggalkan desa Moy Hian, Kanton di daratan China untuk merantau ke Tanah Deli sebagai kuli kontrak di perkebunan Tembakau.
Kakak beradik ini sangat jeli melihat peluang bisnis.Pada suatau kesempatan mereka tinggal menetap di ibu kota Labuhan Deli dan membuka kedai dengan nama Ban Yun Tjong. Tjong A Fie tahu betul kebutuhan kuli-kuli China dan perantau lainnya yang baru tiba di Tanah Deli, sehingga dalam waktu singkat saja ia sudah jadi kaya raya. Keberhasilan usahanya semakin bertambah. Sampai saat ini bangunan tua bersejarah yang berada di areal Kesawan adalah merupakan tempat tinggal keluarga Tjong A Fie dan keturunannya yang pertama kali dibangun di kawasan tersebut.




4. PANTAI CERMIN



HAWA panas dan kebun kelapa sawit. Dua hal itulah yang pertama kali dirasakan saat memasuki wilayah Serdang Bedagai. Pantai Cermin, kira-kira 55 km dari Medan, sepanjang perjalanan Medan-Sei Rampah, pemandangan tidak pernah berubah, hamparan kebun kelapa sawit yang masih muda ataupun yang sudah menghasilkan. Sesekali, diselingi oleh sawah yang di tengahnya terdapat lintasan rel kereta api
DARI dulu, wilayah yang berbatasan dengan Selat Malaka ini dikenal sebagai daerah perkebunan. Berbeda dengan kabupaten induknya, Deli Serdang, yang lebih dikenal dengan perkebunan tembakau, Serdang Bedagai hanya mewarisi perkebunan kelapa sawit, karet, kakao dan sedikit tembakau. Selain itu, daerah ini juga mendapat sebagian wilayah dataran rendah Deli Serdang di sebelah timur.
Perikanan, pertanian tanaman pangan, industri, dan perdagangan sedikit banyak mulai berkembang sebelum Serdang Bedagai memisahkan diri. Wilayah yang dilewati jalan trans- Sumatera, mengelilingi Kota Tebing Tinggi, dan berbatasan dengan Selat Malaka merupakan keuntungan tersendiri untuk modal awal pembangunan sebuah kabupaten baru.
Tanaman palawija dan hortikultura juga tumbuh subur. Bahkan luas lahan kering 44.121 hektar melebihi areal sawah. Ubi kayu merupakan unggulan palawija dengan produksi terbesar 272.173 ton. Pisang barangan menjadi unggulan tanaman hortikultura yang didominasi buah-buahan, 14.388 ton. Produksi palawija dan hortikultura diolah di Serdang Bedagai. Industri kecil dan rumah tangga mengolah menjadi makanan kecil keripik ubi jalar, keripik nangka, keripik sanjai khas Sumatera Barat, dan emping melinjo. Industri kecil yang sebagian besar berlokasi di Desa Bengkel, Kecamatan Perbaungan ini cukup berkembang.

Perikanan merupakan harta karun yang belum maksimal dikembangkan. Didukung oleh garis pantai 98 kilometer dan melewati lima kecamatan. Produksi perikanan darat 10.027 ton tidak sebesar perikanan laut. Namun, budidaya air tawar ini patut dikembangkan lebih lanjut. Ikan lele dan nila gip merupakan ikan yang banyak dipelihara, di Kecamatan Pantai Cermin ini juga melakukan pembibitan ikan nila.
Pantai Cermin yang berada di tepi Selat Malaka dengan pemandangannya yang indah ini kita dapat mandi-mandi serta memancing




5. BUKIT LAWANG


Kekayaan alam Sumatera Utara tak akan pernah habis habisnya jika kita mau mengunjunginya, Jika kita melihat dan berjalan jalan keluar daerah kota Medan, seperti daerah Bahorok terdapat tempat untuk berekreasi yakni Bukit Lawang kita bisa menyaksikan berbagai tempat memukau yang tak akan pernah kita lupakan selama hidup kita. Jika kita menuju ke Bukit Lawang, kita bisa menyaksikan orang utan makan atau orang sering menyebutnya Nonton Orang Utan Sarapan .
jarak Medan - Bukit Lawang kira-kira 88 km. Butuh waktu sekitar dua jam jika ditempuh dengan kendaraan pribadi.
Kekayaan alam Sumatera Utara tak akan pernah habis habisnya jika kita mau mengunjunginya, Jika kita melihat dan berjalan jalan keluar daerah kota Medan, seperti daerah Bahorok terdapat tempat untuk berekreasi yakni Bukit Lawang kita bisa menyaksikan berbagai tempat memukau yang tak akan pernah kita lupakan selama hidup kita. Jika kita menuju ke Bukit Lawang, kita bisa menyaksikan orang utan makan atau orang sering menyebutnya Nonton Orang Utan Sarapan .
Jarak Medan - Bukit Lawang kira-kira 88 km. Butuh waktu sekitar dua jam jika ditempuh dengan kendaraan pribadi.

6. DANAU TOBA





Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik sebesar 100km x 30km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Di tengahnya terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.
Danau Toba sejak lama menjadi daerah tujuan wisata penting di Sumatera Utara selain Bukit Lawang dan Nias, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Asal-usul
Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2800km3, dengan 800km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu.
Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar ribuan saja.
Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Akhirnya tibalah kita di Samosir. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai pulau, awalnya adalah semenanjung, yang menyatu dengan daratan Sumatera pada bagian lehernya sepanjang 200 m. Di situ Belanda membangun terusan air selebar
10 m. Tentu merupakan langkah pragmatis saat itu, namun apakah penduduk setempat bersedia menimbunnya lagi? Memang bagi pengunjung baru melalui jalur Medan-Parapat, danau sebesar itu membuat Samosir tampak bagai pulau megah menakjubkan. Perairannya terbentang luas seakan mengelilingi suatu wilayah dataran tinggi. Lagi pula selama puluhan tahun orang telah menyeberanginya dengan perahu bermotor. Begitu pun, perspektif pulau niscaya memudar dengan meningkatnya pengunjung dataran tinggi Toba, Nias dan tujuan-tujuan lainnya di selatan, melalui rute darat Medan-Berastagi.

Terlepas asal-usulnya, Samosir memang menduduki posisi geografis yang sentral di kawasan dataran tinggi Toba. Letaknya persis di jantung tanah Batak. Dengan lahirnya Kabupaten Toba Samosir (penduduk 302.000 jiwa, luas wilayah termasuk danau 3.440 km²), kelak ia terangkat dari sekedar bayangan. Apa lagi, luasnya melebihi Singapura (647 km²), bahkan danaunya hampir dua kali lebih besar dari negara tetangga itu. Citra Samosir dalam buku-buku pariwisata sebagai tujuan backpackers harus dibuang karena tempat bersejarah ini perlu memulihkan kebesaran masa lalunya.
Anda juga bisa mengunjungi Tuk untuk mencari penginapan. Sepanjang 42 km dari pangururan ke Tuk Tuk, satu jam dengan mobil. Diperkirakan terdapat 50 penginapan dalam berbagai ukuran dan kelas di Tuk Tuk. Ada beberapa hotel berukuran besar disini. Dari segi positif, pariwisata jelas menunjang bisnis setempat. Sebaliknya, pembangunan fisik praktis mengabaikan prinsip-prinsip bisnis dan tata-kota ketika para pengusaha mengebu-gebu membangun hotel, wisma tamu, dll, bagai sedang “memburu emas”.
Memasuki Tuk Tuk seperti mendatangi Legian atau sanur Bali pada tahap awalnya. Terdapat sejumlah toko memajang pakaian warna-warni dan benda-benda seni, berikutnya kafe, disko dan tentu sederetan hotel-hotel. Kala malam menjelang, banyak turis bersukacita mengelilingi api unggun sambil memainkan alat musik dan lagu khas Batak.

Legenda Danau Toba
Di rangkum dari Hasil cerita orang tertua setempat.

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Pemuda itu hidup dari bertani dan mendurung ikan, hingga pada suatu hari ia mendurung,sudah setengah hari ia melakukan pekerjaan itu namun tak satu pun ikan di dapatnya.
Maka dia pun bergegas pulang karena hari pun mulai larut malam, namun ketika ia hendak pulang ia melihat seekor Ikan yang besar dan indah , warnanya kuning emas. Ia pun menangkap ikan itu dan dengan segera ia membawa pulang ikan tersebut, sesampainya di rumah karena sangat lapar maka ia hendak memasak Ikan itu tetapi karena indahnya ikan itu.Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasak ikan itu, ia lebih memilih untuk memeliharanya, lalu ia menaruhnya di sebuah wadah yang besar dan memberi makannya, keesokan harinya seperti biasanya ia pergi bertani ke ladangnya, dan hingga tengah hari Ia pun pulang kerumah, dengan tujuan hendak makan siang, tetapi alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat rumahnya, didalam rumah nya telah tersedia masakan yang siap untuk di makan, ia terheran heran, ia pun teringat pada ikannya karena takut di curi orang, dengan bergegas ia lari ke belakang, melihat ikan yang di pancingnya semalam. Ternyata ikan tersebut masih berada di tempatnya, lama ia berpikir siapa yang melakukan semua itu, tetapi karena perutnya sudah lapar , akhirnya ia pun menyantap dengan lahapnya masakan tersebut. Dan kejadian ini pun terus berulang ulang, setiap ia pulang makan, masakan tersebut telah terhidang di rumahnya. Hingga pemuda tersebut mempunyai siasat untuk mengintip siapa yang melakukan semua itu, keesokan harinya dia pun mulai menjalankan siasatnya, Ia pun mulai bersembunyi diantara pepohonan dekat rumahnya. Lama ia menunggu, namun asap di dapur rumahnya belum juga terlihat, dan ia pun berniat untuk pulang karena telah bosan lama menunggu, namun begitu Ia akan keluar dari persembunyiannya, Ia mulai melihat asap di dapur rumahnya, dengan perlahan lahan ia berjalan menuju kebelakang rumah nya untuk melihat siapa yang melakukan semua itu. Alangkah terkejutnya dirinya ketika ia melihat siapa yang melakukan semua itu, Dia melihat seorang Wanita yang sangat cantik dan ayu berambut panjang , dengan perlahan lahan Ia memasuki rumahnya, dan menangkap wanita tersebut. Lalu Ia berkata,“hai .. wanita, siapakah engkau, dan dari mana asalmu?”
Wanita itu tertunduk diam, dan mulai meneteskan air mata, lalu pemuda itu pun melihat ikannya tak lagi berada di dalam wadah. Ia pun bertanya pada wanita itu, “hai wanita kemanakah ikan yang di dalam wadah ini?”
Wanita itu pun semakin menangis tersedu sedu, namun pemuda tsb terus memaksa dan akhirnya wanita itu pun berkata“Aku adalah ikan yang kau tangkap kemarin” .
Pemuda itu pun terkejut, namun karena pemuda itu merasa telah menyakiti hati wanita itu , maka pemuda tsb berkata, “Hai wanita maukah engkau menjadi Istri ku..??”,
Wanita tsb terkejut, dia hanya diam & tertunduk, lalu pemuda tsb berkata
“Mengapakah engkau diam ..!!” .
Lalu wanita tsb pun berkata, “ aku mau menjadi istri mu .. tetapi dengan satu syarat, apakah syarat itu balas pemuda itu dengan cepat bertanya, wanita itu berkata,
“Kelak jika anak kita lahir dan tumbuh, janganlah pernah engkau katakan bahwa dirinya adalah anakni Dekke (anaknya ikan)”.
Pemuda itu pun menyetujui persyaratan tsb dan bersumpah tidak akan mengatakannya, Dan menikahlah mereka. Hingga mereka mempunyai anak yang berusia 6 tahunan , anak itu sangatlah bandal (jugul) dan tak pernah mendengar jika di nasehati, Lalu suatu hari sang ibu menyuruh anaknya untuk mengantar nasi ke ladang ketempat ayahnya, anak itu pun pergi mengantar nasi kepada ayahnya, namun di tengah perjalanan ia terasa lapar, Ia pun membuka makanan yang di bungkus untuk ayahnya, dan memakan makanan itu. Setelah selesai memakannya, kemudian ia pun membungkusnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ketempat sang ayah, sesampainya di tempat sang ayah Ia memberikan bungkusan tersebut kepada sangayah, dengan sangat senang ayahnya menerimanya, lalu ayahnya pun duduk dan segera membuka bungkusan nasi yang di titipkan istrinya kepada anaknya, alangkah terkejutnya ayahnya melihat isi bungkusan tersebut. Yang ada hanya tinggal tulang ikan saja, sang ayah pun bertanya kepada anaknya “hai anakku., mengapa isi bungkusan ini hanya tulang ikan belaka”, anaknya nya pun menjawab, “ di perjalanan tadi perutku terasa lapar jadi aku memakannya”, sang ayah pun emosi, dengan kuat ia menampar pipi anaknya sambil berkata
"Botul maho anakni dekke (betul lah engkau anaknya ikan),"
Sang anak pun menangis dan berlari pulang kerumah, sesampainya dirumah anaknya pun menanyakan apa yang di katakan ayahnya
“mak .. olo do na di dokkon amangi, botul do au anakni dekke (mak .benarnya yang dikatakan ayah itu , benarnya aku ini anaknya ikan)” mendengar perkataan anaknya ibunya pun terkejut, sambil meneteskan air mata dan berkata di dalam hati.
“Suami ku telah melanggar sumpahnya, dan sekarang aku harus kembali ke alamku,” Maka, langit pun mulai gelap, petir pun menyambar nyambar, Hujan badai pun mulai turun dengan derasnya, sang anak dan ibu raib, dari bekas telapak kaki mereka muncul mata air yang mengeluarkan air sederas derasnya, hingga daerah tersebut terbentuk sebuah Danau, yang Diberi nama Danau TUBA yang berarti danau tak tau belas kasih, tetapi karena orang batak susah mengatakan TUBA, maka danau tersebut terbiasa disebut dengan DANAU TOBA..
Menurut Warga setempat, sang ibu kembali berubah menjadi Ikan yang sangat besar (penunggu danau), dan sampai sekarang belum ada yang bisa mengukur dalamnya Danau tersebut. Karena telah banyak turis-turis yang coba menyelam ke danau namun tak pernah kembali, kedalaman air danau yang ada di buku hanyalah perkiraan saja bukan sebenarnya.

disadur dari  www.indonesiacoder.forumotion.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More